Rabu, 10 Juni 2026
Assirojiyah.online
KPPA

17 Agustus: Antara Lomba Makan Kerupuk, Drama Panitia, dan Keajaiban Gotong Royong yang Gak Ada Matinya

PT. Assrof Media - Sunday, 12 April 2026 | 12:00 PM

Background
17 Agustus: Antara Lomba Makan Kerupuk, Drama Panitia, dan Keajaiban Gotong Royong yang Gak Ada Matinya
17 Agustus: Antara Lomba Makan Kerupuk, Drama Panitia, dan Keajaiban Gotong Royong yang Gak Ada Matinya (istimewa/)

17 Agustus: Antara Lomba Makan Kerupuk, Drama Panitia, dan Keajaiban Gotong Royong yang Gak Ada Matinya

Nggak ada yang lebih "Indonesia" daripada suara speaker toa di balai RW yang mendadak nyaring jam tujuh pagi di tanggal 17 Agustus. Biasanya, suaranya diawali dengan kresek-kresek statis, disusul suara ketua panitia yang berdeham canggung, lalu lagu "Hari Merdeka" diputar dengan volume maksimal sampai kaca jendela rumah ikut bergetar. Itulah alarm nasional kita. Sebuah pertanda bahwa hari paling sibuk, paling gerah, tapi sekaligus paling seru dalam setahun resmi dimulai.

Merayakan kemerdekaan di negeri ini memang unik. Kalau di negara lain mungkin perayaannya kaku dengan parade militer yang serba rapi, kita di sini justru merayakannya dengan cara yang sedikit... absurd. Bayangkan saja, kita memperingati perjuangan darah dan air mata pahlawan dengan cara lomba lari sambil pakai daster, atau berusaha memanjat batang pohon pinang yang sudah dilumuri oli sampai hitam legam. Kedengarannya memang nggak nyambung, tapi di situlah letak magisnya.

Transformasi dari Peserta Menjadi Panitia

Ada siklus hidup yang tak tertulis bagi setiap anak muda di Indonesia dalam menyambut 17-an. Waktu kecil, kita adalah penguasa lapangan. Tugas kita cuma satu: menang lomba makan kerupuk atau balap karung supaya bisa bawa pulang buku tulis isi 10 atau kotak pensil gambar robot. Hidup terasa sangat simpel waktu itu. Musuh terbesar kita hanyalah tali rafia yang mengikat kerupuk yang sengaja digoyang-goyangkan oleh kakak panitia yang jahil.

Tapi begitu masuk usia remaja atau awal 20-an, status kita naik tingkat (atau turun kasta, tergantung cara melihatnya) menjadi anggota Karang Taruna alias Panitia 17-an. Di sinilah realita menghantam. Ternyata, di balik keseruan lomba yang cuma berlangsung beberapa jam, ada drama berbulan-bulan sebelumnya. Mulai dari urusan minta sumbangan ke rumah-rumah warga—yang kadang disambut senyum ramah, tapi nggak jarang juga disambut gonggongan anjing atau alasan "lagi nggak ada uang kecil"—sampai rapat yang berakhir sampai subuh cuma buat bahas warna kaos panitia.

Menjadi panitia itu adalah seni mengelola kesabaran. Kita harus menghadapi ibu-ibu yang protes karena anaknya nggak menang lomba, atau bapak-bapak yang merasa peraturan lomba gaple kurang adil. Tapi anehnya, secapek apa pun kita, saat melihat bendera merah putih berkibar di sepanjang gang dan mendengar tawa anak-anak yang belepotan tepung, rasa capek itu mendadak hilang. Ada kepuasan batin yang nggak bisa dibeli pakai saldo e-wallet mana pun.

Filosofi di Balik Lomba yang "Unfaedah"

Kalau kita pikir-pikir pakai logika dingin, lomba-lomba 17-an itu banyak yang "unfaedah" alias nggak ada gunanya buat masa depan karier. Apa manfaatnya jago masukin paku ke dalam botol di CV lamaran kerja? Nggak ada. Tapi kalau kita bedah lebih dalam, lomba-lomba ini adalah manifestasi dari karakter asli kita sebagai bangsa yang komunal.

  • Makan Kerupuk: Ini bukan soal siapa yang paling lapar, tapi soal kegigihan. Makan kerupuk yang digantung itu susah, bos! Harus sabar, harus punya timing yang pas, dan yang paling penting, nggak boleh pakai tangan. Sebuah metafora bahwa untuk mencapai kesejahteraan (kerupuk), kita sering kali dibatasi oleh aturan dan keadaan yang bikin kita harus berusaha dua kali lipat lebih keras.
  • Panjat Pinang: Ini adalah puncak dari segala lomba. Di sini nggak ada tempat buat egois. Orang paling kuat harus mau diinjak pundaknya supaya yang paling kecil bisa naik ke puncak. Kalau satu saja orang di bawah menyerah, ambruk semuanya. Ini gotong royong dalam bentuk paling murni sekaligus paling licin.
  • Balap Karung: Pelajaran hidup paling nyata. Kita bakal jatuh, kita bakal terlihat konyol, tapi pilihannya cuma dua: diam di tempat sambil nanggung malu, atau bangun lagi dan loncat sampai garis finis.

Malam Tirakatan: Saatnya "Healing" Massal

Setelah seharian panas-panasan di lapangan, puncak kemeriahan biasanya ditutup dengan Malam Tirakatan atau Panggung Gembira. Ini adalah momen di mana seluruh warga, dari yang biasanya cuma saling tegur sapa di grup WhatsApp sampai yang jarang keluar rumah, berkumpul di satu tempat yang sama. Alasnya sederhana, cuma tikar plastik atau karpet masjid yang digelar di tengah jalan.

Menu makanannya? Biasanya nasi tumpeng atau nasi berkat yang rasanya entah kenapa selalu lebih enak daripada nasi box di hotel bintang lima. Di momen ini, sekat-sekat sosial mendadak hilang. Si bos besar yang punya rumah paling megah di pojok gang duduk lesehan bareng pak satpam, sambil ketawa bareng nonton penampilan anak-anak TK yang nari "Baby Shark" tapi gerakannya nggak ada yang kompak.

Inilah "healing" yang sebenarnya. Di tengah gempuran berita politik yang bikin pening atau tekanan kerja yang nggak ada habisnya, 17 Agustus memberikan kita ruang untuk kembali menjadi manusia yang komunal. Kita diingatkan bahwa kita nggak sendirian. Kita punya tetangga yang mungkin agak berisik kalau pagi, tapi ternyata jago banget masak opor buat dimakan bareng-bareng.

Kenapa Kita Masih Melakukannya?

Mungkin ada yang bertanya, di zaman serba digital ini, apa masih relevan kita panas-panasan buat lomba tarik tambang? Jawabannya: sangat relevan. Justru karena dunia sudah terlalu digital dan individualis, kita butuh momen 17-an untuk "reconnect" dengan realita sekitar.

Merayakan kemerdekaan itu bukan cuma soal upacara formal di istana yang kita tonton lewat layar TV. Merayakan kemerdekaan adalah tentang merayakan kebebasan kita untuk tetap bersatu meskipun kita beda hobi, beda pilihan politik, atau beda nasib dompet. 17-an adalah cara kita bilang ke dunia bahwa Indonesia itu masih ada, masih asyik, dan masih punya stok tawa yang nggak bakal habis cuma gara-gara masalah receh.

Jadi, kalau besok-besok ada panitia Karang Taruna ngetok pintu rumah buat minta sumbangan, kasihlah lebih dikit. Karena yang mereka beli bukan cuma hadiah kerupuk atau panci buat doorprize, tapi mereka sedang merawat memori kolektif kita sebagai bangsa yang besar. Merdeka itu bukan cuma bebas dari penjajah, tapi juga bebas buat seru-seruan bareng tetangga tanpa harus merasa jaim.

Selamat Hari Kemerdekaan! Jangan lupa siapkan daster terbaikmu buat lomba besok pagi, ya!