MENYUSURI KHAZANAH ISLAM DI ASTA TINGGI SUMENEP
Admin Assirojiyyah - Wednesday, 07 October 2026 | 06:00 AM


MENYUSURI KHAZANAH ISLAM DI ASTA TINGGI SUMENEP
Oleh:Alfa ali
Asta Tinggi Sumenep merupakan kompleks pemakaman para raja dan keluarga Keraton Sumenep yang memiliki nilai sejarah, budaya, dan keislaman yang sangat tinggi. Di tempat inilah dimakamkan para pemimpin Keraton Sumenep beserta tokoh-tokoh penting yang berjasa dalam perkembangan kerajaan dan penyebaran Islam di wilayah Madura.
Raja Sumenep yang pertama adalah Pangeran Anggadipa dari Jepara. Beliau memimpin Sumenep ketika daerah tersebut mengalami kekosongan pemerintahan. Setelah wafatnya Pangeran Anggadipa, kepemimpinan diteruskan oleh Pangeran Panji Pulang Jiwo. Sepeninggal beliau, pemerintahan beralih kepada Pangeran Jimat.
Setelah Pangeran Jimat wafat, pemerintahan diteruskan oleh adik iparnya, yaitu Bindara Saod yang bergelar Kanjeng Tumenggung Arya Tirtonegoro. Selanjutnya, kepemimpinan diwariskan kepada putranya, yaitu Panembahan Somala, sosok pendiri Masjid Agung Sumenep.
Setelah Panembahan Somala wafat, pemerintahan dilanjutkan oleh putranya, Syarif Sultan Abdurrahman. Beliau dikenal sebagai tokoh yang menemukan makam Sayyid Yusuf Telango. Selain itu, masyarakat juga meyakini bahwa beliau pernah menulis Al-Qur'an dalam waktu satu malam.
Sepeninggal Syarif Sultan Abdurrahman, pemerintahan diteruskan oleh putranya, yaitu Panembahan Muhammad Saleh (Natakusuma II). Setelah Panembahan Muhammad Saleh wafat, kepemimpinan diteruskan oleh Pakunataningrat, yang mendapat julukan sebagai "paku" atau penyangga bagi Kerajaan Sumenep karena perannya dalam menjaga keselamatan kerajaan. Selanjutnya, pemerintahan diteruskan oleh Prataming Kusumo, yang dikenal sebagai pemimpin terakhir Keraton Sumenep sebelum sistem pemerintahan beralih kepada para bupati yang diangkat dari luar keluarga kerajaan.
Tokoh-Tokoh yang Dimakamkan di Area Barat
Di bagian barat kompleks Asta Tinggi terdapat tiga kubah utama yang menaungi makam para raja beserta keluarga dekatnya. Tokoh-tokoh yang dimakamkan di area ini antara lain:
- Raden Panji Pulang Jiwo (Raden Tumenggung Pulang Jiwa)
- Pangeran Jimat (Kanjeng Tumenggung Arya Cokronegoro III)
- Bindara Saod (Kanjeng Tumenggung Arya Tirtonegoro)
- Tumenggung Wirasekar
Berbeda dengan area barat, kawasan timur mulai dibangun sekitar pertengahan abad ke-18 atau sekitar tahun 1750-an. Bangunan di sisi ini memperlihatkan pengaruh arsitektur Eropa klasik yang berpadu dengan unsur budaya lokal.
Tokoh-Tokoh yang Dimakamkan di Area Timur;
- Panembahan Somala (Pangeran Asiruddin/Notokusumo I)
- Panembahan Muhammad Saleh (Natakusuma II)
- Ratu Ayu Sultan Abdurrahman
- Para putra dan putri Keraton Sumenep
- Patih Mangun
Tradisi Ziarah dan Peringatan Hari Jadi Sumenep
Setiap memperingati Hari Jadi Kabupaten Sumenep yang jatuh pada 1 Oktober, di kawasan Asta Tinggi diselenggarakan kegiatan pengajian akbar dan tahlil bersama sebagai bentuk penghormatan kepada para leluhur Keraton Sumenep.
Bagi setiap peziarah yang datang, dianjurkan untuk terlebih dahulu melapor ke kantor pengelola yang berada di kompleks Asta Tinggi. Selanjutnya, peziarah akan didampingi oleh juru kunci untuk memulai ziarah secara berurutan, dimulai dari makam para tokoh yang lebih tua sebagai bentuk penghormatan terhadap para pendahulu.
Pengunjung juga diharapkan mengenakan pakaian yang sopan dan menutup aurat. Selain itu, peziarah dilarang duduk di atas nisan makam sebagai bentuk penghormatan terhadap para tokoh yang dimakamkan.
Perawatan dan Pelestarian Asta Tinggi
Juru kunci Asta Tinggi merupakan keturunan yang secara turun-temurun mendapat amanah untuk menjaga kompleks makam Keraton Sumenep. Tradisi ini telah berlangsung sejak kompleks pemakaman didirikan dan terus dilestarikan hingga sekarang.
Perawatan kawasan makam dilakukan secara rutin setiap hari melalui kegiatan pembersihan seluruh area. Menjelang Hari Jadi Kabupaten Sumenep, dilakukan pula pengecatan menggunakan kapur agar bangunan tetap terawat dan tampak bersih.
Para juru kunci berharap generasi penerus dapat terus menjaga dan melestarikan Asta Tinggi sebagai salah satu cagar budaya yang menjadi kebanggaan masyarakat Sumenep. Dengan perawatan yang baik, diharapkan kompleks makam ini tetap lestari, serta semakin banyak dikunjungi oleh peziarah maupun wisatawan yang ingin mengenal sejarah dan khazanah Islam di Keraton Sumenep.
Next News

DAKWAH EKOLOGI DAN TATA KELOLA SAMPAH
a month ago

TIRAKAT DI ZAMAN SEKALI PAKAI
a month ago

HAYATUNNAS: MENGHIDUPKAN KEMANUSIAAN GENERASI MUDA ERA DIGITAL
a month ago

Permasalahan Sampah: Tantangan dan Solusinya
a month ago

KETIKA RUH YANG RAPUH MEMILIH UNTUK KUAT
a month ago

12 RABIUL AWAL: MENELADANI CAHAYA SANG RASUL
a month ago

MERDEKA DALAM DIRI, TUNDUK DALAM ILMU
2 months ago

ESENSI PENTING DALAM BIRRUL WALIDAIN
2 months ago

ESENSI PENTING DALAM BIRRUL WALIDAIN
2 months ago

LISAN TERJAGA HATI BERTAKWA
2 months ago
