Sunday, May 26pondok pesantren assirojiyyah
Shadow

TETAP BERTAHAN DALAM SEGALA KONDISI

Spread the love
BERTAHAN

Eksistensi lembaga pendidikan Islam seperti madrasah yang mampu bertahan di tengah hiruk pikuk masyarakat perkotaan patut menjadi kebanggaan. Karena hal ini merupakan pekerjaan yang tak mudah. Di mana karakteristik masyarakat perkotaan lebih cenderung pada kepentingan pendidikan yang sifatnya formal. Pada edisi kali ini, kami wartakan sebuah madrasah salaf yang masih survive di tengah kota metropolitan, Surabya.

Sejarah Madrasah

            Madrasaah Diniyyah Raudlatul Jannah Ar-Rohmaniyyah didirikan pada akhir tahun 2004 oleh Ag. Fadoli yang merupakan alumni Pondok Pesantren Assirojiyyah angkatan 1982-2003. Sebelum dibangun madrasah, sudah berjalan Taman Pendidikan Alquran (TPQ) yang dirintis oleh mertuanya, Abd. Kholik pada tahun 1993.

            Pendirian madrasah ini berawal dari perintah mertuanya agar Ag. Fadoli tidak fokus pada dunia usaha, melainkan berupaya untuk memajukan pendidikan agama. Karena pada saat itu, belum ada satupun lembaga pendidikan madrasah di daerahnya. Sehingga kemudian dia berencana untuk mendirikan lemabaga pendidikan (madrasah) atas restu keluarganya.

            Lima tahun berjalan, terjadi konflik internal yang mengakibatkan Ag. Fadoli harus vakum dari kegiatan mengajar bahkan statusnya sebagai pembina. Pada masa itu, kepemimpinan dilanjutkan oleh saudaranya dan terjadi perpindahan lokasi madrasah dari Jl. Kapas Madya IV E No.20 ke Jl. Kapas Madya IV No.33, RT.003/RW.17 Gading, Kec. Tambaksari, Surabaya. Beberapa tahun setelah berganti kepemimpinan, madrasah ini bukan malah berkembang melainkan semakin menurun jumlah santrinya secara drasrtis hingga gulung tikar.

            Beban konflik yang dialami sempat membuatnya goyah hingga beliau berinisiatif merantau ke daerah Cirebon. Namun keiinginannya pun kandas setelah tidak direstui oleh gurunya, KH. Atoulloh Bushiri, pengasuh kedua PP. Assirojiyyah. Akhirnya beliau kembali mengurus TPQ yang awalnya hanya beberapa santri lalu bertambah semakin banyak dalam waktu satu tahun. Dari sinilah kemudian beliau memutuskan untuk membangun madrasah kembali pada tahun 2011 .

Operasional Madrasah

            Meski terletak di kota besar, sistem kurikulumnya masih menerapkan pendidikan salaf murni sebagaimana pesatren dan madrasah di pedesaan pada umumnya. Terdiri dari empat jenjang pendidikan, yaitu pertama, jenjang I’dat yang ditempuh selama 2 tahun, kedua, Ula selama 4 tahun, ketiga, Wustha selama 3 tahun dan terakhir, Kuliah selama tiga tahun.

SIAPAKAH YANG LAYAK MEMIMPIN?

            Kegiatan operasional madrasah dimulai setelah salat Asar pada jam 03.30-05.00 WIB untuk tingkat I’dat dan Ula. Adapun tingkat Wustha dan Kuliah beroperasi pada pukul 07.30-09.00 WIB dalam sekali pertemuan yang terbagi dalam dua mata pelajaran.

            Selain kegiatan kurikulum, Madrasah Raudlatul Jannah Ar-Rohmaniyyah juga memiliki kegiatan eksrakulikuler, yaitu Hadrah Albanjari bertempat di ruang kelas dan pencak silat bertempat di lapangan yang dilaksanakan pada setiap malam Jumat.

            Dalam kegiatan mengajar, Ag. Fadoli dibantu oleh 13 tenaga pengajar termasuk dua guru tugas dari PP. Assirojiyyah serta beberapa guru yang tinggal di sekitar madrasah. Ruangan yang tersedia sebanyak enam kelas, dengan jumlah santri sekitar 200 orang.

            Lembaga ini tidak memiliki sumber finansial khusus, bahkan bangunan madrasah yang berdiri sekarang merupakan rumah pribadi yang dijadikan tempat mencari ilmu bagi para santri.  Sehingga untuk menopang operasional madrasah, pengurus menarik uang bulanan kepada santri Rp. 5.000 bagi santri TPQ dan Rp. 10.000 bagi santri madrasah.

            Menurut Ag. Fadoli, madrasah di sini berbeda dengan madrasah yang ada di Madura pada umumnya. Perbedaan itu nampak dari desain bangunan serta tidak adanya madrasah di sekitar sana yang masih berbasis salaf.

Oleh : Khotimul Umam

9 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *