Shadow

Dekat tapi jauh

JG

Oleh: KH. M. Itqon Bushiri

Mengkhawatirkan prilaku diri sendiri dan orang lain diantara budaya yang dikenal dengan sosmed. 2/3 jam waktu senggang habis untuk bermedsos. Perlu sebuah fatwa yang matang terkait dengan etika bermedsos. Kalau fiqih media sosial telah di tulis oleh DR. Faris, tapi beretika dalam medsos  belum tersentuh. Kita bayangkan tiga orang teman yang duduk rapi dikursi ruang tunggu, salah satu tersenyum dan yang lain mengerutkan dahi. Karena masing-masing memegang gadget. Bahkan yang lebih parah sekelompok anak-anak seusia SD duduk di tepi jalan, kaki selonjoran di aspal tanpa memperdulikan suara klakson, setelah berkali-kali membunyikan klakson, kakinya ditarik sambil bersengut seolah-olah kita mengganggu konsentrasi mereka.

Namun ada sisi positif yang baik dan sangat bermanfaat. Contohnya pesan cepat dalam musibah. Bahkan seorang kiai dihadapkan dengan pengucapan maskawin dengan uang dalam Bahasa arab, membaca khutbah nikah, membaca sholawat, bahkan ruang informasi tanpa batas.

Perlu diwaspadai bahwa berita yang tidak bertanggung jawab memiliki konsekuensi hukum. Artinya berita palsu atau hoax boleh dibaca tapi tdak boleh disebarkan. Jangan menyesal Karena kurang hati-hati.

Belajarlah bijaksana, sebab islam mengajarkan kita untuk menghindari katanya dan katanya yang di sebut qila wa qila. Jangan mudah menghukumi sesuatu tanpa ada  kepastian hukumnya. Demikian juga tidak setiap apa yang kita lihat adalah sebuah kebenaran. Terkadang seorang namimah ( tukang adu domba ) memotong penggalan gambar, penggalan pidato bahkan memotong kata tidak lain untuk tujuan fitnah. Contoh dalam pidato “ kita *tidak* boleh menghina orang lain” kemudian viral pernyataan boleh.

Informasi lepas tanpa batas yang disebut social media, perlu dimliki oleh orang-orang yang arif dan bijaksana. Kita mendapat amanat dari sang maha Agung sebuah anugerah maha karya yaitu logika. Otak kiri dan otak kanan diciptakan untuk harmoni dalam keseimbangan berpikir. Janganlah berpendapat tanpa mempertimbangkan untung dan rugi. Jangan berkhianat dalam timbangan, pesan hikmah ini bukan hanya dalam perdagangan tetapi dalam segala hal. Termasuk dalam bersosial media. Cinta mengalahkan gunung yang tinggi, sedangkan kebencian seperti jurang yang penuh sampah.

Sekali cinta, kejelekan apapun menjadi permata. Sedangkan benci, kabaikan apapun seperti bangkai yang tak berharga

Sebagai umat islam kita dianjurkan tidak menjadi tuhan untuk orang lain. Melihat orang melakukan kesalahan langsung di cap kafir, sesat, dan lain sebagainya. Ini yang membuat kita tersesat dan menyesatkan. Sedangkan amaliyah dalam ibadah dan keseharian kita belum mendapatkan informasi bahwa amalan kita diterima. Miris kalau kita baca social media dari orang-orang yang mengambil alih pekerjaaan tuhan. Belajar dari kegagalan yang disinyalir dalam sabda Nabi SAW “ barang siapa  bertambah ilmunya tapi tidak bertambah hidayahnya , sebenarnya dia telah jauh dari Alloh SWT”

Mari kita manfaatkan sebaik-baiknya ruang baca dan video yang ada di social media dengan arif dan bijaksana. Jauh atau dekat yang penting hati kita dalam ridlo Alloh SWT. Walloh a’lam

2 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published.