Shadow

Pemanfaatkan Teknologi untuk Dakwah Santri di Era Digital

Teknologi
Teknologi

Perkembangan teknologi sangat pesat, yang mengubah seluruh aspek kehidupan termasuk cara pandang masyarakat terhadap pesantren. Secara tidak langsung pesantren dihadapkan pada dua pilihan, ia harus menampakkan “wajah baru” sebagai respon atas kenyataan yang terjadi, atau tetap dengan keadaannya yang mempertahankan sisi tradisional, khas dan unik. Bukan tidak mungkin pesantren harus berganti wajah karena itu adalah keharusan. Dimana, pesantren adalah lembaga pendidikan yang bertujuan mendidik dan menggembleng para santri, salah satunya dengan menjadikannya juru dakwah agama bagi kalangan masyarakat luas.
Tujuan tersebut tentu harus bersinergi dengan cara yang mestinya dilakukan pesantren dalam mempersiapkan santri kelak setelah kembali ke masyarakat. Sedangkan pada sisi yang lain, kekhasan dan keunikan pesantren menjadi pertaruhan. Jika kemajuan teknologi tidak direspon dengan agresif, maka pesantren akan tertinggal jauh dengan lembaga pendidikan pada umumnya. Inilah yang kemudian menjadi tantangan pesantren abad ini. Sehingga, mau tidak mau pesantren harus merespon kemajuan tersebut dengan bijak.
Satu diantaranya adalah kemajuan teknologi haruslah dapat menjadi media untuk memaksimalkan para santri dalam mengembangkan ilmu yang ia miliki. Dengan demikian, santri sebagai produk pesantren haruslah mulai belajar hal-hal baru utamanya teknologi. Karena dapat kita definisikan bahwa, santri hari ini bukan hanya santri yang pandai membaca kitab kuning, namun gagap teknologi. Bukan pula mereka yang hanya paham ilmu ulama salaf tanpa tahu ilmu ulama kholaf. Begitulah kurang lebihnya. Santri yang baik, harus sesuai tuntutan sosial. Mereka haruslah paham terhadap kenyataan, mengerti situasi kekinian, dapat menyelesaikan problem sosial dengan sikap arif dan berlandaskan hukum yang benar, tanpa terlepas dari tradisi yang dipegang oleh ulama terdahulu.Di sinilah peran pondok pesantren untuk mencetak santri yang diharapkan itu. Sudah waktunya pondok pesantren dapat memanfaatkan teknologi informasi untuk mempermudah santri menuntut ilmu, memperluas ruang dakwah pesantren dan mempertimbangkan efektivitas belajar. Karena dengan teknologi, ilmu pengetahuan dapat diserap atau disajikan tanpa batas.

Baca Juga : https://assirojiyyah.online/dakwah-santri-di-era-digital-perlu-penguasaan/

Kemajuan ini adalah angin segar bagi dunia pendidikan pesantren. Setidaknya ada tiga hal positif: pertama, sebagai alat pembelajaran. Bahan belajar dalam format digital memudahkan untuk dibaca dimanapun dan kapanpun tanpa batas. Kedua, sebagai sumber belajar. Perkembangan ilmu pengetahuan berlangsung sangat cepat, mengharuskan proses yang cepat pula dalam belajar. Tanpa teknologi pemebelajaran yang up to date membutuhkan waktu yang lama. Ketiga, fasilitas pembantu pembelajaran. Dengan teknologi, seorang pengajar dapat memberikan ilustrasi berkaitan dengan materi yang disampaikan agar mudah diserap oleh peserta didik. Pelajar yang cerdas adalah hasil dari metode belajar yang tepat dan efektif.
TIK dan Pesantren Model pembelajaran efektif diperlukan oleh setiap lembaga pendidikan termasuk pesantren. Ambil contoh, jika tanpa teknologi santri membutuhkan paling tidak setengah jam untuk mencari satu tema dalam tiga jenis kitab, dengan bantuan teknologi seperti maktabah syamilah santri hanya membutuhkan sekitar lima menit.
Pengamat Pendidikan Islam dari Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah, Jejen Musfah berpandangan bahwa literasi digital masih sangat perlu ditingkatkan. Menurutnya, prinsip pembelajaran abad ke-21 untuk generasi milenial tidak menolak kemajuan ilmu pengetahuan seperti internet dengan dalil apapun. Maka pesantren dinilai tidak bisa menghindari internet, sebaliknya pesantren harus memanfaatkan internet dengan sistem dan aturan yang baik.
Tapi, Jejen menegaskan, pesantren harus mempunyai sistem dan aturan agar internet hanya bisa digunakan untuk kebaikan oleh para santri. Pesantren harus membuat sistem supaya para santri tidak bisa mengakses konten pornografi di lingkungan pesantren. Kemudian penggunaan laptop dan smartphone harus diatur waktunya, sebab jika penggunaannya tanpa aturan akan kebablasan.
Untuk bisa menerapkan aturan tersebut, menurut Jejen, diperlukan pelatihan para pembina asrama dan ustadz supaya bisa mengajarkan bagaimana menggunakan internet secara efektif, efisien dan cerdas. Sebab tidak bisa menolak kemajuan ilmu pengetahuan seperti internet. Tinggal bagaimana pesantren mempersiapkan sebuah sistem untuk menghadapi kemajuan zaman dan perkembangan teknologi.dalil apapun. Maka pesantren dinilai tidak bisa menghindari internet, sebaliknya pesantren harus memanfaatkan internet dengan sistem dan aturan yang baik.
Tapi, Jejen menegaskan, pesantren harus mempunyai sistem dan aturan agar internet hanya bisa digunakan untuk kebaikan oleh para santri. Pesantren harus membuat sistem supaya para santri tidak bisa mengakses konten pornografi di lingkungan pesantren. Kemudian penggunaan laptop dan smartphone harus diatur waktunya, sebab jika penggunaannya tanpa aturan akan kebablasan.
Untuk bisa menerapkan aturan tersebut, menurut Jejen, diperlukan pelatihan para pembina asrama dan ustadz supaya bisa mengajarkan bagaimana menggunakan internet secara efektif, efisien dan cerdas. Sebab tidak bisa menolak kemajuan ilmu pengetahuan seperti internet. Tinggal bagaimana pesantren mempersiapkan sebuah sistem untuk menghadapi kemajuan zaman dan perkembangan teknologi.

Sanggub
Pelatihan SANGGUB

Leave a Reply

Your email address will not be published.