Shadow

MENJADI DHOMIR NA

Bagi kalangan pesantren, ilmu nahwu merupakan mata pelajaran primer yang wajib dikuasai. Karena dengan ilmu ini, khazanah keilmuan islam yang sangat luas dapat diselami secara mendalam.

     Hal ini dikarenakan keilmuan islam dari zaman dulu sampai sekarang diwariskan dalam bentuk kitab berbahasa Arab yang kebanyakan tidak berharokat atau yang lebih populer disebut dengan “Kitab kuning atau Kitab gundul”.

     Ilmu Nahwu adalah ilmu yang membahas tentang kaidah-kaidah grametika Bahasa Arab seperti perubahan harakat akhir dalam kalimat sehingga memudahkan seseorang untuk membaca dan memahami kitab kuning tersebut.

     Namun dari sisi lain, ternyata dalam ilmu nahwu juga terdapat filosofi yang baik untuk diterapkan dalam menjalani kehidupan ini. Misalnya dalam Dlomir muttasil na (نا)

     Dalam tinjuan ilmu nahwu, dlomir na meskipun menempati mahal (posisi)  rafa’ nasob dan jer, tetap menggunakan redaksi kata na. Tanpa ada perubahan dan tanpa kehilangan sifat kemuttasilan. Seperti contoh yang terdapat dalam bait Alfiyah karya Imam ibnu malik

لِلرَّفْعِ وَالنَّصْبِ وَجَرِّنَا صَلَحْ # كَاعْرِفْ بِنَا (جير) فَاءِنَّنَا (نصب) نِلْنَا الْمِنَحْ (رفع)

     Adapun filosofi yang tergandung di dalamnya adalah sebuah sikap keteguhan diri dalam berpendirian, dalam artian kita harus tetap skaleh dalam keadaan apapun. Seperti halnya dlomir na yang tetap dengan satu lafadz meskipun dalam mahal rofa’, nashob dan jer.

     Dan jika hal ini dihubungkan dengan status kita sebagai seorang santri, dlomir na mengajarkan kepada kita agar mampu menjadi santri intelektual yaitu santri yangmampu mengadaptasikan diri dengan keadaan sekitarnya. Namun tetap jaga jatidiri sebagai santri dalam kondisi apapun, kapanpun dan dimanapun. Seperti halnya dalam menghadapi era globalisasi ini, telah berkembang dengan pesat.

     Perkembangan ini beriringan pula dengan perkembangan masyarakat, dari masyarakat yang tradisional menjadi masyarakat modern. Sehingga tak jarang membuat seseorang lupa akan jati dirinya.

     Begitupun dengan fenomena santri hari ini, pola pikir dan tingkah laku para santri sudah mulai ada sedikit perubahan seperti cara berpakaian, potongan rambut dan lain sebagainya.

     Santri hari ini, atau isltilah kerennya adalah santri zaman now, adalah bagian dari generasi mellenial yang tentunya tidak lepas dari karakteristik generasi mellenial itu sendiri. Dan mungkin hal ini juga menjadi salah satu  sebab perubahan tersebut.

     Meskipun demekian, perubahan ini tentu dapat benilai negatif maupun positif tergantung bagaimana santri dapat menfilter dampak yang terjadi serta keteguhannya untuk tidak meninggalkan identitasnya sebagai santri.

     Dari ini menjadi dlomir muttasil (نا) adalah sebuah keharusan dalam mengarungi kehidupan ini agar tidak terombang –ambing ole keadaan. Akan tetapi, untuk menjadi seperti dhomir muttasil (نا) tidaklah mudah. Selain ahklakul karimah, ada modal utama yang harus dimiliki yaitu ilmu.

     Ilmu merupakan sesuatu yang sangat penting dan harus dimiliki oleh manusia dalam mengarungi kehidupan di dunia ini. Pentingnya ilmu, sampai-sampai Rosulluloh SAW melalui haditsnya menegaskan bahwa wajib hukumnya mencari ilmu bagi setiap individu umat islam. Hikmah dari dimilikinya ilmu ini juga sudah difirmankan oleh Alloh SWT dalam Al-Qur’an bahwa Alloh akan mengangkat derajat orang-orang yang memiliki ilmu.

     Dan untuk mendapatkan ilmu, tentunya kita harus istiqamah menuntut ilmu dengan terus rajin belajar, membaca, megkaji dan berdiskusi.

     Sebagaimana yang disabdakan Rosululloh SAW, “Tuntutlah ilmu dari buaian sampai liang lahat.”

     Akhirnya, semoga kita semua bisa menjadi seperti dlomir na. Menjadi seorang santri milenial yang tak kehilangan jati dirinya dan tetap menjaga kemuttasilannya (hubungan) dengan pesantren dan guru.**  

Bagi kalangan pesantren, ilmu nahwu merupakan mata pelajaran primer yang wajib dikuasai. Karena dengan ilmu ini, khazanah keilmuan islam yang sangat luas dapat diselami secara mendalam.

     Hal ini dikarenakan keilmuan islam dari zaman dulu sampai sekarang diwariskan dalam bentuk kitab berbahasa Arab yang kebanyakan tidak berharokat atau yang lebih populer disebut dengan “Kitab kuning atau Kitab gundul”.

     Ilmu Nahwu adalah ilmu yang membahas tentang kaidah-kaidah grametika Bahasa Arab seperti perubahan harakat akhir dalam kalimat sehingga memudahkan seseorang untuk membaca dan memahami kitab kuning tersebut.

     Namun dari sisi lain, ternyata dalam ilmu nahwu juga terdapat filosofi yang baik untuk diterapkan dalam menjalani kehidupan ini. Misalnya dalam Dlomir muttasil na (نا)

     Dalam tinjuan ilmu nahwu, dlomir na meskipun menempati mahal (posisi)  rafa’ nasob dan jer, tetap menggunakan redaksi kata na. Tanpa ada perubahan dan tanpa kehilangan sifat kemuttasilan. Seperti contoh yang terdapat dalam bait Alfiyah karya Imam ibnu malik

لِلرَّفْعِ وَالنَّصْبِ وَجَرِّنَا صَلَحْ # كَاعْرِفْ بِنَا (جير) فَاءِنَّنَا (نصب) نِلْنَا الْمِنَحْ (رفع)

     Adapun filosofi yang tergandung di dalamnya adalah sebuah sikap keteguhan diri dalam berpendirian, dalam artian kita harus tetap skaleh dalam keadaan apapun. Seperti halnya dlomir na yang tetap dengan satu lafadz meskipun dalam mahal rofa’, nashob dan jer.

     Dan jika hal ini dihubungkan dengan status kita sebagai seorang santri, dlomir na mengajarkan kepada kita agar mampu menjadi santri intelektual yaitu santri yangmampu mengadaptasikan diri dengan keadaan sekitarnya. Namun tetap jaga jatidiri sebagai santri dalam kondisi apapun, kapanpun dan dimanapun. Seperti halnya dalam menghadapi era globalisasi ini, telah berkembang dengan pesat.

     Perkembangan ini beriringan pula dengan perkembangan masyarakat, dari masyarakat yang tradisional menjadi masyarakat modern. Sehingga tak jarang membuat seseorang lupa akan jati dirinya.

     Begitupun dengan fenomena santri hari ini, pola pikir dan tingkah laku para santri sudah mulai ada sedikit perubahan seperti cara berpakaian, potongan rambut dan lain sebagainya.

     Santri hari ini, atau isltilah kerennya adalah santri zaman now, adalah bagian dari generasi mellenial yang tentunya tidak lepas dari karakteristik generasi mellenial itu sendiri. Dan mungkin hal ini juga menjadi salah satu  sebab perubahan tersebut.

     Meskipun demekian, perubahan ini tentu dapat benilai negatif maupun positif tergantung bagaimana santri dapat menfilter dampak yang terjadi serta keteguhannya untuk tidak meninggalkan identitasnya sebagai santri.

     Dari ini menjadi dlomir muttasil (نا adalah sebuah keharusan dalam mengarungi kehidupan ini agar tidak terombang –ambing ole keadaan. Akan tetapi, untuk menjadi seperti dhomir muttasil (نا) tidaklah mudah. Selain ahklakul karimah, ada modal utama yang harus dimiliki yaitu ilmu.

     Ilmu merupakan sesuatu yang sangat penting dan harus dimiliki oleh manusia dalam mengarungi kehidupan di dunia ini. Pentingnya ilmu, sampai-sampai Rosulluloh SAW melalui haditsnya menegaskan bahwa wajib hukumnya mencari ilmu bagi setiap individu umat islam. Hikmah dari dimilikinya ilmu ini juga sudah difirmankan oleh Alloh SWT dalam Al-Qur’an bahwa Alloh akan mengangkat derajat orang-orang yang memiliki ilmu.

     Dan untuk mendapatkan ilmu, tentunya kita harus istiqamah menuntut ilmu dengan terus rajin belajar, membaca, megkaji dan berdiskusi.

     Sebagaimana yang disabdakan Rosululloh SAW, “Tuntutlah ilmu dari buaian sampai liang lahat.”

     Akhirnya, semoga kita semua bisa menjadi seperti dlomir na. Menjadi seorang santri milenial yang tak kehilangan jati dirinya dan tetap menjaga kemuttasilannya (hubungan) dengan pesantren dan guru.**  

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

chat sekarang