Shadow

Miftahul Mubtadiin Menjawab Dinamika Sosial dan Keagamaan

Sosial dan Keagamaan

Hampir meratanya masyarakat terhadap kebutuhan pendidikan formal menjadikan lembaga di berbagai lapisan daerah dituntut untuk menyuguhkan pendidikan yang serupa. Inilah yang menyebabkan madrasah di berbagai plosok desa harus mengimbangi dan menjawab kebutuhan masyarakat tersebut. Pada edisi kali ini, koresponden Majalah Assirojiyyah akan membahas sebuah lembaga madrasah yang mengkombinasikan dua jenis pendidikan yakni Madrasah Miftahul Mubtadiin.

Histori Madrasah

Madrasah Miftahul Mubtadiin merupakan lembaga pendidikan yang terletak di Kampung Ra’as, Desa Kajjan, Blega, Bangkalan. Madrasah ini didirikan oleh tokoh karismatik KH. Masyhudi bin Saifuddin, alumni pesantren  KH. Bahar, Pakong  pada tahun 1988 M. Berawal dari halaqoh berupa kajian keagamaan  yang diikuti oleh sesepuh desa pada saat itu, lalu mereka mengajak KH. Masyhudi untuk mendirikan madrasah. Melihat di daerahnya tak ada wadah yang bersifat religi.

            Dari aspirasi masyarakat tersebut, beliau langsung meminta izin kapada gurunya (KH. Bahar) untuk mendirikan madrasah. Niatan muridnya itu langsung direspon positif oleh sang guru sekaligus pemberian nama madrasah yang akan didirikannya.

Pada mulanya, madrasah ini hanya berupa satu lokal kelas. Namun seiring bertambahnya jumlah santri, sekitar tahun 2000-an ditambah menjadi 6 kelas. Setelah hampir dua puluh tahun KH. Masyhudi memimpin, tepat pada tahun 2008, iapun dipanggil sang ilahi. Kemudian estafet kepemimpinan madrasah dilanjutkan oleh putra tunggalnya, yaitu KH. Hamdani Masyhudi sampai sekarang.

Awal Madrasah        

            Madrasah yang berada di tengah perbedaan paham ini mempunyai kegiatan yang tak jauh berbeda dari yang lain. Awalnya hanya ada pendidikan diniyah, namun pada tahun 2004 menambah pendidikan formal berupa Mts, SMA, dan yang terbaru TK (2019).

Penambahan jenis pendidikan ini, semata-mata tuntutan dari masyarakat sekitar yang berkiblat pada pesantren Pakong. Yang pada saat itu sudah memiliki pendidikan formal.

            Kegiatan operasial pendidikan dimulai dari pendidikan formal pada jam 07:30 – 11:30 Istiwa’ (Mts-SMA), dan TK pada jam 07:00 – 09:00 Istiwa’. Kemudian dilanjutkan madrasah diniyah pada jam 01:30 – 04:00 Istiwa’. Dalam kegiatan belajar mengajar, KH. Hamdani dibantu oleh 14 pengajar. Mereka merupakan alumni madrasah sendiri, alumni dan Guru Tugas PP. Assirojiyyah, dan tenaga luar untuk pendidikan formalnya.

            Selain kegiatan di atas, di madrasah ini terdapat kegiatan extra kulikuler berupa tahfidz juz amma yang diikuti santri kelas I-III Ibtidaiyyah, baca kitab kuning diikuti santri kelas IV-VI Ibtidaiyyah, pengajian Kitab Nashoihul Ibad setiap hari Minggu dan Rabu, serta praktik ubudiyah yang dipimpin oleh guru tugas setiap malam Senin.

            Sejak pendirian madrasah hingga sekarang, ada beragam batu sandungan yang menerpa, baik internal maupun eksternal. Yang terbaru adalah perbedaan paham keagaman yang berkembang di lingkungan masyarakat sekitar. Namun, madrasah ini mempunyai cara tersendiri untuk membendung dinamika yang terjadi. Di antaranya, disisipkannya pemahan Aswaja baik di madrasah diniyah maupun fomal, sentuhan rohani setiap acara tahlilan, khoul, serta pengajian setiap malam Rabu dan Minggu.

Sarana & Finansial

            Madrasah yang mempunyai kurang lebih 160 santri ini berdiri di atas lahan pribadi dengan luas sekitar 25×40 M. Yang mana sistem finansialnya bersumber dari swadaya masyarakat, alumni dan simpatisan.

            Di madrasah ini terdapat dua jenjang pendidikan; ibtidaiyyah, ditempuh selama enam tahun dan Nidhomiyah selama tiga 3 tahun. Menurut KH. Hamdani, tujuan dari lembaga ini adalah semata-mata sebagai bekal untuk akhirat.  “Semoga keluarga, khususnya keturunan saya bisa sekuat saya dalam menghadapi dinamika sosial dan keagaman di masa yang akan datang. Dan semoga madrasah ini ke depannya tambah maju,” harapnya.

M
Baca Juga

Leave a Reply

Your email address will not be published.