Shadow

SIKAP MURID KEPADA GURU

GURU
SIKAP MURID KEPADA GURU

Di awal tahun 2018 ini, dunia pendidikan kembali tercoreng namanya. Setelah sebelumnya ada kasus seorang guru dipolisikan akibat menghukum muridnya, lalu kali ini dihebohkan dengan kasus seorang murid yang tega menganiaya gurunya sendiri hingga meninggal dunia.

Tragedi tersebut tentu menambah catatan hitam sejarah bagi dunia pendidikan di Indonesia, yang mana mayoritas penduduknya sangat menjunjung tinggi nilai-nilai kesopanan. Sehingga timbul tanda tanya di kalangan masyarakat, ada apa dengan pendidikan kita?, siapa yang salah?

Terlepas dari saling menyalahkan satu sama lain, yang menjadi persoalan adalah pendidikan ini milik kita dan merupakan tanggung jawab bersama. Dan harus kita sadari memang perubahan zaman menjadi salah satu sebab dekadensi moral di berbagai kalangan termasuk juga di lingkungan pelajar yang sebenarnya tidak boleh terjadi. Sehingga dampaknya banyak di antara mereka yang tidak lagi memperhatikan martabat seorang guru dan bagaimana seharusnya bersikap yang baik dan santun kepadanya.
Guru meruapakan orang tua yang diberi amanah untuk mendidik aspek-aspek batiniyah yang ada dalam diri manusia, sebagaimana orang tua kandung yang diberi amanah untuk merawat aspek-aspek jasmaniyah manusia. Oleh karenanya, derajat guru lebih tinggi dibanding orang tua kandung yang hanya sebatas mendidik raga.
Sehingga dengan latar belakang di atas sangat penting ditekankan kembali bagaimana adab-adab dan cara bersikap yang baik oleh murid kepada gurunya:


Pertama, Adab ketika duduk Seorang murid harus memperhatikan betul tentang cara duduk bersama gurunya. Menurut Ibnul Jama’ah “Seorang penuntut ilmu harus duduk rupi, tenang, tawadhu, mata tertuju kepada guru, tidak membetungkan kaki, tidak bersandar, tidak pula bersandar dengan tangannya, tidak tertawa dengan keras, tidak duduk di tempat yang lebih tinggi juga tidak membelakangi gurunya”

Kedua, Adab ketika berbicara. Berbicara dengan seseorang yang telah mengajarkan kebaikan haruslah lebih baik dibandingkan jika berbicara kepada orang lain. Imam Abu Hanifah pun jika berada di depan Imam Malik beliau layaknya seorang anak di hadapan ayahnya. Begitu juga para sahabat Nabi SAW, tidak pernah mereka beradab buruk kepada beliau, mereka tidak pernah memotog ucapannya atau mengeraskan suara di hadapannya. Bahkan Umar bin Khattab yang terkenal keras wataknya tak pernah menarik suaranya di depan Rosululloh, hingga di beberapa riwayat, Rosululloh sampai kesulitan mendengar suara Umar jika berbicara. Dari Abi Said al Khudry RA juga menjelaskan, “Saat kami sedang duduk duduk di masjid, maka keluarlah Rosululloh shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian duduk di hadapan kami. Maka seakan-akan di atas kepala kami terdapat burung. satu pun dari kami yang berbicara” (HR. Bukhari).

Ketiga, Adab ketika bertanya. Dalam Islam diatur tentang adab bertanya kepada guru. Para ulama telah menjelaskan tentang adab bertanya ini. Mereka mengajarkan bahwa pertanyaan harus disampaikan dengan tenang, penuh kelembutan, jelas, singkat dan padat, juga tidak menanyakan pertanyaan yang sudah diketahui jawabannya. Karena seolah-olah hanya ingin menguji pengetahuan guru dan hal semacam ini termasuk etika yang buruk.


Di dalam al-Qur’an terdapat kisah adab yang baik seorang murid terhadap gurunya, yaitu kisah Nabi Musa dan Nabi Khidir. Pada saat Nabi Musa as meminta Khidir untuk mengajarkannya ilmu, maka Khidir menjawab, Sungguh, engkau(Musa) tidak akan sanggup sabar bersumuku 105 Al Kahfi 67). Akan tetapi setelah berlangsung percakapan di antara: keduanya, Khidir pun berkenan memberikan ilmunya kepada Musa dengan sebuah syarat yaitu tidak boleh bertanya sebelum mendapat izin dan penjelasan. Oleh karenanya, manakala guru belum memberi kesempatan bertanya kepada murid, maka sebaiknya murid tidak bertanya. Karena hal tersebut dapat mengangganu konsentrasi guru serta mengurangi rasa hormat kepadanya.

BACA JUGA:

https://assirojiyyah.online/pembukaan-ajang-paling-bergengsi/

Keempat, Adab dalam mendengarkan pelajaran. Saat guru memberikan penjelasan hendaknya murid mendengarkan dengan penuh perhatian serta memfokuskan pikiriran kepada apa yang dijelaskannya. Jangan sampai mengabaikan penjelasan guru, karena sikap tersebut dapat menyebabkan hati guru marah. Akibatnya ilmu yang dipelajari murid tidak akan berkah, sebab telah menyakiti hati guru. Naudzubillah.


Adab-adab di atas merupakan bentuk penghormatan murid kepada gurunya yang seharusnya dilakukan. Semoga dengan mengamalkannya para murid bisa mengerti betapa agungnya guru dan pentingnya takdzim kepadanya, serta peristiwa-peristiwa yang dapat mencoreng dunia pendidikan tidak terulang kembali. Semoga bermanfaat. (Oleh: Alam Akbar).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *