Notice: Undefined variable: encoded_url in /home/u347206317/domains/assirojiyyah.online/public_html/wp-content/plugins/fusion-optimizer-pro/fusion-optimizer-pro.php on line 54
USAID BIN HUDHAIR 1 - 06/04/2023
Wednesday, June 19pondok pesantren assirojiyyah
Shadow

USAID BIN HUDHAIR PENTILAWAH YANG DISAKSIKAN MALAIKAT

Spread the love
USAID BIN HUDHAIR

Nama lengkapnya adalah Usaid Bin Hudhair bin Samak al-Anshori al-Asyhali berasal dari kaum Anshor dari Bani Aus. Rosululloh memanggilnya Abu Isa. Di zaman jahiliyah, beliau dijuluki al-Kamil (yang sempurna) karena luas pengetahuannya dalam bidang baca tulis bahasa Arab dan keunggulannya dalam bidang berenang dan memanah. Siapa yang memiliki pengetahuan luas dalam bidang berbagai ilmu, ia dijuluki al-Kamil. Sahabat Usaid lahir di Yastrib, ayahnya merupakan pahlawan perang pada zaman jahiliyah bernama Hudhair Kata’ib. Ia pemimpin kabilah al-Aus dan pembawa panji perang Bi’ats, perang terakhir dan terbesar antara kabilah al-Aus dan Khazraj. Ibunya keturunan orang mulia dan agung, putri an-Nu’man bin Imru’ul Qais. Ia memiliki peran penting dalam pembinaan dan pendidikan Usaid menjadi orang besar.

Awal Mula Masuk Islam

Pada mulanya, Usaid Bin Hudhair menjadi salah satu orang yang tidak menerima ajaran Islam. Hingga pada saat Rosululloh mengutus Mush’ab bin Umair untuk berdakwah pada kaumnya yang ditemani As’ad bin Zurarah, membuat salah satu kaum Usaid, Sa’ad bin Muadz marah dan meminta bantuan Sa’ad bin Hudhair untuk menghalangi keduanya.

            Usaid bin Hudhair segera mengambil tombaknya lalu menemuhi sahabat Mush’ab. Melihat intimidasi tersebut, Mush’ab bin Umair meminta perjanjian kepada Usaid untuk mendengarkan tentang apa yang ia dakwahkan, apabila ia tidak mau menerima, Mush’ab berjanji akan angkat kaki dari Madinah, lalu Usaid menerimanya.

Setelah itu Mus’ab mulai berbicara padanya tentang Islam dan membacakannya Alquran. Akhlak dan akal Usaid telah membuat pikirannya terbuka, wajah Usaid langsung cerah, dia merasakan keagungan ayat-ayat Alquran, hidayah Islam telah memasuki hatinya.

Disaksikan Malaikat

Sejak Usaid bin Hudhair masuk Islam, kecintaan pada Alquran terus tumbuh dalam hatinya. Dia terlihat begitu sering duduk melantunkan ayat-ayat Alloh SWT. Hingga di suatu malam yang larut, beliau berada di belakang rumahnya, anaknya Yahya tidur di sampingnya. Kuda yang selalu siap sedia untuk berperang fi sabilillah ditambat tidak jauh dari tempatnya duduk. Suasana malam tenang, lembut, dan hening. Permukaan langit jernih dan bersih.

Baca Juga:

BELAJAR DARI KATA CINTA

Terpengaruh oleh saasana malam yang larut itu, hati Usaid tergerak hendak membacakan Kalamulloh. Dibacanyalah Alquran surat al-Baqoroh ayat 1-4 dengan suaranya yang empuk dan merdu. Mendengar bacaan tersebut, kudanya lari berputar-putar hampir memutusakan tali pengikatnya. Ketika Usaid diam, kuda itu diam dan tenang pula. Usaid melanjutkan bacaanya tepatnya surat al-Baqorah ayat 5. Kudanya lari dan berputar-putar pula lebih hebat dari semula. Usaid diam, maka diam pula kuda tersebut. Hal seperti itu terjadi berulang-ulang.

Usaid khawatir anaknya akan terinjak oleh kudanya, lalu dibangunkannya. Ketika dia melihat ke langit, terlihat olehnya awan seperti payung yang mengagungkan. Belum pernah terlihat sebelumnya. Payung itu sangat indah berkilat-kilat, tergantung seperti lampu-lampu memenuhi ufuk dengan sinarnya yang terang. Awan itu bergerak naik hingga hilang dari pemandangan. Setelah hari pagi, Usaid pergi menemui Rosululloh. Diceritakannya kepada beliau peristiwa yang dialami dan dilihatnya semalam. Lalu Rosululloh bersabda, “itu malaikat yang ingin mendengarkan engkau membaca Alquran, hai Usaid. Seandainya engkau teruskan bacaanmu, pastilah orang banyak akan melihatnya pula. Pemandangan itu tidak akan tertutup dari mereka.”

Tutup Usia

Usaid meninggal dunia di Bulan Sya’ban tahun 20 Hijriyah. Sahabat Umar bin Khaththab RA ikut mengusung jenazahnya ke pemakaman Baqi’ dan mensalatinya di sana. Usaid wafat dengan meninggalkan utang senilai empat ribu dirham. Lalu ahli warisnya berniat menjual kebun peninggalannya untuk menutupi utang tersebut. Mendengar hal itu, sang khalifah Umar bin Khaththab menawarkan kepada pemberi utang untuk menangguhkan pelunasan, dengan bersedia menerima seribu dirham dari hasil kebun tersebut setiap tahunnya, hingga terlunasi dalam waktu empat tahun. Mereka pun menerima tawaran sang khalifah. (Oleh: Khotimul Umam Alhariz)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *