Shadow

Anyir Darah di Surabaya

hj

Awan pagi ini nampak begitu cerah, setelah kejadian seminggu yang lalu orang-orang mulai melakukan aktifitas mereka dengan normal, para peria sibuk mencari nafkah diluar rumah, para wanita dengan cekatan mengurus seluruh isi rumah, dan para Anak kecil seusiaku juga sedang asik bermain, luka seminggu yang lalu lambat laun mulai mereka lupakan,

Aku, Joko, Didin dan teman-teman yang lain dengan gembiranya bermain petak umpet, memanfaatkan reruntuhan bangunan yang berserakan untuk menyembunyikan diri, ada yang dengan sengaja bersembunyi di balik tembok ada pula yang bersembunyi di balik pohon, “tujuh, delapan, Sembilan, sepuluh…” nampaknya Didin sudah selesai berhitung, samar-samar langkahnya menuju kearah persembunyianku, aku sedikit gugup dan gemeteran, hanya karena ingin merasa lebih aman akupun memejamkan mataku.

“nah.. Joko kamu ketemu” aku sudah dapat membayangkan raut kekecewaan wajah Joko, pasti dia tak menyangka akan ditemukan secepat ini. Sampai saat ini aku masih belom berani membuka mata, rasanya dengan mata terpejam aku merasa lebih aman,

“Asep, ayo makan dulu nak, habis makan nanti main lagi, Ayo kesini dulu sayang” dari depan rumah Ibu memanggilku, namun aku tak berkeinginan untuk menjawabnya, aku hanya menutupi bibir mungilku dengan jari telunjuk, memberikan isyarat supaya Ibu tidak lagi berteriak, karena khawatir Didin dapat menemukanku, saat aku melihat kearah Ibu kutemui senyum yang begitu tulus di bibirnya,

Bukan hanya Ibu yang sedang menungguku, disampingnya juga ada Bapak yang sedang bersantai ditemani koran dan secangkir kopi “biarkan Asep bermain dulu dek, kasihan dia, sudah seminggu dia mengurung didalam rumah akibat pristiwa di Malang itu” keduanya begitu mesra, rasanya aku ingin bergabung dengan mereka, duduk dipangkuan Bapak sambil makan dengan suapan Ibu, seandainya aku tidak sedang bermain petak umpet pasti aku sudah menghampiri mereka, dan mungkin hal ini akan menjadi hal yang membahagiakan dalam hidupku, dalam gelapnya pejaman mata aku terus membayangkan wajah mereka.

“lari…. Ayo selamatkan diri kalian dipersimpangan jalan sana Belanda sudah menyerang” tiba tiba saja seseorang berteriak dan setelah teriakan itu berakhir, langkah kaki orang-orang terdengar tak berarturan, semakin lama semakin cepat dan keras, nampaknya mereka sedang lari kearahku. Aku yang semula merasa aman saat mata dipejamkan, saat ini aku malah merasa perlu membukanya untuk selamat,

“dor,dor,dor…” saat kubuka, ternyata suasana sudah sangat berbeda, dari arah yang berlawanan sudah bayak mayat yang berserakan dengan luka tembak yang begitu mengerikan, dengan angkuh dan gagahnya mereka melangkah, membantai setiap orang yang mereka temukan dan  disini sudah tak kutemukan wajah teman-temanku, mungkin mereka sudah lari duluan untuk menyelamkan diri.

Hal ini memang bukan pemandangan kali pertamaku terhitung sudah tiga sampai lima kali aku melihat kejadian seperti ini, namun detak jatungku masih saja tak karuan, saat aku kembali menoleh kebelakang Kolonel-Kolonel belanda itu semakin dekat, mereka terlihat begitu menakutkan dengan seragam dan senjata yang begitu lengkap, “ampun tuan jangan bunuh Anak saya, dia masih berusia 3 tahun” suara itu nampak tak asing bagiku, suara Ibu Lasmi yang tengah mengibah, “apa ? Kamu mau Anak ini tetap hidup ? dasar bodoh, tugasku disini bukan untuk melindungi kalian tetapi untuk membunuh kalian”

Dari jarak sekitar 50 meter akau masih dapat melihat dengan jelas wajah Yanto yang menangis ketakutan, dalam keadaan gemetar dia menutupi wajahnya dengan kedua tangannya, “Kamu ingin Anak ini selamat ? baiklah, aku urungkan niatku untuk membunuhya, tapi…..” dengan santainya dia menggantungkan jawabannya “tapi apa tuan?” dengan mata yang berbinar Ibu Lasmi mulai menemukan harapannya “kamu harus memuaskan nafsu kami… hh-hh-hh” saat mendengar itu cahanya dimatanya mulai memudar, dia sadar sekarang sudah tidak ada pilihan lagi selain mati

Dengan lantang Ibu Lasmi menolaknya “lebih baik aku mati dari pada harus menyerahkan harga diri, kalian tak ayalnya hanyalah Serigala yang serakah yang sampai kapanpun tak akan merasa puas” mendengar itu Kolone-Kolonel Belanda merasa direndahkan, amarah merekapun membuncah pada saat itu juga “baiklah jika itu yang kamu inginkan kami akan mengabulkannya”

Tampa banyak bicara namun dengan sedikit senyum sinis Kolonel itu menodongkan pistolnya tepat dikepala Yanto “hh-hh dor” seketika itu pistol yang di todongkan di kepala Yanto meletup menembus kepalanya, melihat itu tangisan Ibu Lasmi pecah, dengan segala amarah ia berteriak tampa bisa memberontak “kalian tega, Anakku ini baru berusia tiga tahun, bahkan dia belum tau apa-apa tentang Negri ini, tentang kalian dan tentang kehidupan, kalian memang biadap”  “apa kamu bilang? Kami biadap? Baiklah, akan aku buktikan ucapanmu itu, kami memang biadap, akan kubunuh kamu sekalian, dor-dor” dengan tampa rasa kasihan mereka menembaki tenggorokan Ibu Lasmi yang saat itu tengah mendekap yanto

            Melihat kejadian itu, tubuhku menjadi lebih gemetar dari sebelumnya, rasanya aku tak percaya Yanto yang barusan masih tertawa bersama saat bermain petak umpet kini sudah tewas secara tragis, sungguh tak punya hati para Kolonel-Kolonel itu, dengan rasa takut yang memuncak spontan aku berteriak,

“Ah…….ah…Bapak, Ibu. “ sambil menangis aku berteriak dan lari, kareana terlalu keras, akhirnya suaraku memancing Kolonel-Kolonel itu, mereka dengan serentak melihat ke arahku dan mengejarku, aku yang begitu ketakutan hanya dapat menangis dan berlindung di dekapan Ibuku, sedangkan Bapak tegap siaga untuk melindungi kami, “Bapak ayo kita lari dan bersembunyi” suara mungilku mengajaknya pergi, namun dengan wajah tersenyum Bapak berkata “Asep, jagoan kecilku, ada saatnya kita tidak boleh lari ataupun bersembunyi, kamu tak perlu takut, mereka punya tangan untuk menghajar kita juga punya tangan untuk melawan” aku yang saat itu masih berusia tiga tahun tidak bisa mengerti ucapan Bapak, aku hanya menangis serta mengeratkan pelukanku dalam dekapan Ibu

cv

Belayan lembut Ibu begitu menghangatkan, meski dalam keadaan yang begitu menakutkan seperti sekarang Ibu tetap tenang seakan-akan rasa berani dalam jiwanya sudah membuncah “Ibu aku takut!”

“apa yang kamu takutkan sayang, disini masih ada Bapak dan Ibu yang akan melindungimu”

“tapi Kolonel-Kolonel itu sangat bengis, tadi saja mereka sudah membunuh Ibu Lasmi dan Yanto” setelah mengucapkan itu rambutku terasa sedikit basah, satu tetes, dua tetes air mata Ibu jatuh di kepalaku

“Ibu nangis?”

“enggak kok, Ibu gak nangis, mata ibu cuman kelilipan saja” aku tau saat ini Ibu tengah membohongiku, dia pura-pura tegar padahal dia juga hawatir

“Asep dengerin Ibu, apapun yang terjadi kamu tidak boleh lemah palagi takut, kamu harus tetap berani, ingat sayang ada Indonesia yang harus kamu perjuangkan”

Aku tak tau apa yang Ibu bicarakan, tapi dari nada bicaranya seperti pesan terakhir seorang Ibu pada Anaknya yang akan ditinggalkan dalam waktu yang lama.

Samar-samar suara mereka terdengar semakin dekat bahkan mungkin sekarang mereka telah berhadapan dengan Bapak “oh jadi Anak itu Anak kamu jendral Irawan ?” mendengar itu badanku semakin gemetar, pelukanku semakin aku eratkan, sekarang aku begitu takut untuk membuka mata, “mau apa kamu Korinus? Bukankah seminggu lalu kamu telah memporak porandakan Malang, apa kamu belum puas?”

“ya, kamu benar, aku belum puas, aku ingin kota besar seperti surabaya ini” dengan lantang dan gagahnya Kolonel itu berucap, dari selah-selah jemariku aku berusaha melihatnya, dan betapa terkejutnya aku saat melihat pistolnya terarah ke arah kepala Bapak, “kamu ingat seminggu lalu Jendral ? siapa yang kamu bunuh itu..hah….!” suaranya meninggi, Kolonel itu membentak Bapak, nampaknya Kolonel itu sangat marah, suaranya bergetar dan bola matanya bergeming air mata

“Anak kecil itu Anak ku dan perempuan disampingnya itu Istriku, mereka berdua tewas dengan luka di sekujur tubuhnya, dengan tega kamu membunuh mereka yang tidak tau apa-apa Jendral” Kolonel itu terbawa suasana dukanya, dengan nada merendah dan setengah menangis ia bercerita, nampaknya ia begitu terpekul dengan kematian Anak dan Istrinya, mungkin sekarang Kolonel itu tengah menuntut dendam dengan kematian keluarganya.

“bukan aku yang membunuh mereka Korinus, saat anak mu tengah berada di sekitar peperangan ada peluru nyasar yang mengenai tubuhnya, dan saat itu pula Istrimu berusaha menolongnya, tapi sayang ada perajurit yang lebih dulu melempar Granat kearah mereka”

“kamu benar ada yang melempar Granat saat itu, tapi yang melemparnya itu perajurit kamu bukan?”

“saat kejadian itu, baku hantam antara aku dan pasukan mu tengah terjadi, Istri dan anakmu yang terluka berada didekat kami, tapi kami tak ada keinginan sama sekali untuk membunuhnya” Bapak berhenti sejenak, ia menarik nafasnya yang agak berat

“nah saat pasukan mu keteteran salah satu dari mereka ada yang melemparkan Granatnya kearah kami tampa memperdulikan bahwa disitu ada Istri dan Anakmu, spontan aku dan pasukanku lari, hanya saja Istrimu tidak lari, dia memilih mendekap anaknya sampai granat itu meledak”

mendengar itu Korinus merasa terpukul, ia tak percaya dengan cerita Bapak

“Ah pasti kamu bohong Jendral” amarahnya terlihat semakin tinggi, pistol yang ia todongkan di kepala bapak semakin ia dekatkan

 “hhhh, apakah kamu takut Korinus, sehingga kamu harus membawa beribu-ribu pasukan mu itu untuk membunhku, kalok kamu memang berani aku tantang kamu duel denganku tampa bantuan senjata apapun”

“baiklah aku terima tantangan mu”

            Dengan mata yang saling menatap Bapak dan Kolonel Korinus berhadapan, dimata bapak ada amarah yang begitu besar atas perlakuan Korinus yang menghancurkan Malang, sedangkan di mata Kolonel Korinus, ada dendam yang harus ia tuntaskan atas kematian Istri dan Anaknya, sampai saat ini ia mengira bapaklah yang membunuh keluarganya.

            “banyak-banyaklah berdoalah Jendral agar Anakmu ini tidak menjadi Anak yatim, hhhhhh” “tak usah kau banyak bicara Korinus” sejurus itu ia langsung melesatkan pukulanya ke arah Bapak, dengan cekatan Bapak menghindar dan menendang wajah Kolonel itu, belum sempat ia bangun Bapak langsung menghantam wajahnya berkali-kali, dengan keadaan lemah dia berusaha berdiri dan menyerang namun tak satupun serangannya berhasil melukai Bapak, senyum sumringah terlihat diraut wajah Bapak karena sudah dapat memukul telak Kolonel itu, namun dengan kelicikannya tiba-tiba ia mengambil pistolnya dan langsung menembakannya pas di perut Bapak, belum sempat menghindar peluru itu sudah menancap di perut bapak  “licik kamu Korinus”

darah segar bercipratan membajiri pakayan bapak, warnanya merah menyala seperti bendera Indonesia, “kamu boleh tersenyum dengan kelicikanmu ini, tapi kamu tak ayalnya hanyalah seorang pengucut yang menitipkan nyawamu pada segenggaman senapan, kamu tidak layak disebut sebagai Kolonel taupun Prajurit, Kamu pecundang Korinus…” suaranya nampak seperti aungan singa yang sedang terluka, samapi pada detik terakhir dalam hidupnyapun bapak tetap menunjukkan rasa keberaniannya.

“satu lagi Korinus, kamu itu bodoh, Perajuritmu yang telah melempar granat pada Istri dan Anakmu, kamu telah di hianati Korinus, cobak kamu fikir, pasukanku yang mana yang memegang Granat, semua perajuritku hanya memegang pistol dan bamboo runcing, Granat itu milik salah satu perajuritmu Korinus, hh-hh-hh- kamu bodoh Kolonel” nampaknya ia mulai bimbang dengan ucapan bapak, hatinya membenarkan bahwa saat perang itu terjadi hanya pasukan Belandalah yang memiliki Granat, namun amarahnya sudah tidak dapat ia bendung lagi

“aku tak peduli ocehan-ocehan mu itu Jendral, tetap saja hari ini akan kubunuh kamu, tapi tenang saja, aku tak akan membunuh Anakmu, akan kubiarkan dia tetap hidup, agar dia dapat merasakan kesepian yang sama sepertiku”

“Pengecut kamu Korinus”

tampa banyak bicara lagi ia langsung menembaki Bapak untuk kedua kalinya yang membuat Bapak merenggang nyawa

            “Akang ….” Ibuku menangis histeris, dan seketika itu pelukan Ibu terlepas, badannya limbung disisi bapak dengan tangis yang begitu membuncah air matanya jatuh beercampur dengan bau amis darah Bapak, saat itu Ibu tak berucap apa-apa ia hanya menangis dan terus menangis, “kamu sayang suamimu? Cinta kalian sehidup sematikan? Baiklah akan kubantu kamu untuk menemaninya selamanya”

Saat itu badanku lemas airmata hangat tiba-tiba saja menetes, klopak mataku yang begitu kecil tidak dapat membendung airmata yang mengalir dengan derasnya, dari ucapan Kolonel itu aku sadar sebentar lagi bukan hanya Bapak yang akan dia bunuh, tapi Ibu juga akan dia bunuh, ingin sekali rasanya aku menghantam wajahnya, menghentikan semua drama ini, tapi tanganku masih terlalu kecil untuk hal itu

            “tidak…..” aku berteriak sekuat mungkin, namun naas senapan itu sudah ia lepaskan “dor..” ledakan itu terdengar begitu pekat ditelingaku, laksana bom yang memporak porandakan kota, hatiku begitu hancur dan berserakan, pelurunya melesat dengan sangat cepat tampa bisa dihentikan, dengan luka ditenngorokannya Ibu jatuh dan berakhir di atas dada Bapak “Kalian jahat, teganya kalian bunuh orang tuaku” mereka sama sekali tak memperdulikanku, bahkan mereka membiarkanku menangis histeris sendirian “biarkan Anak ini tetap hidup agar dia bisa merasakan kehilangan sema sepertiku ketika ayahnya membunuh Anak dan istriku seminggu yang lalu”

            Tubuhku jatuh melunglai di samping mayat orang tuaku, rasanya aku ingin sekali nafas ini berhenti saat ini juga, menemani mereka untuk selamanya “ Bapak, Ibu ayo bangun, Asep takut hidup sendirian, Ibu ayo bangun, Ibu tak boleh mati, kata Ibu masih ada Indonesia yang harus di perjuangkan, Ibu, ayo bangun bantu Asep untuk membangunkan Bapak, Ibu ayo bangun……..”

            Air mataku masih saja setia menemaniku, meski badanku mulai melemah tangisku tak kunjung berakhir, sekarang tubuhku terasa lebih berat mataku terasa membengkak, aku begitu lemah  aku tak tau hal apa yang harus aku lakukan sekarang, seakan suasana hidup akan segera berakhir pandanganku mulai memburam tubuhku mulai kehilangan kendali, kepalakupun berakhir di atas tubuh Ibu.

Penulis: Aj Anwar

Leave a Reply

Your email address will not be published.