Shadow

Belajar Keberagaman dari Rujak

By: Nyai Hj. Hainunatus Zahro’

i

Indonesia dianugerahi beragam etnis yang otomatis beragam pula budayanya. Keragaman ini kerapkali bangsa kita disebut masyarakat multikultural atau masyarakat majemuk. Kemultikultularan tersebut dapat dilihat dari berbagai aspek; profesi, gender, agama, etnis, dan sebagian kecil ras. Kemajemukan ini dilatarbelakangi oleh letak geografis/negara kepulauan, sejarah, terbuka pada dunia luar, dan posisi Indonesia yang strategis diantara dua benua dan dua samudera.

Keberagaman bangsa sering menimbulkan konflik, sarat dan rentan konflik sebab sulitnya konsensus. Perjalanan bangsa ini dapat dianggap telah mampu menjaga keberagaman elemen bangsa dengan baik meskipun letupan-letupan konflik masyarakat masih menghiasi warta di berbagai media. Penyebab konflik sangat beragam dengan modus tertentu dan pola tertentu pula.

Pola masyarakat multikultural dan penanganan konflik di dalamnya dapat diatasi dengan akomodasi. Akomodasi atau peleraian konflik terdiri dari mediasi, arbitrasi, konsiliasi, toleransi, dan lain sebagainya. Akomodasi merupakan pilihan untuk mengatasi pola masyarakat multikultural baik minoritas dominan, mayoritas dominan, maupun komposisi seimbang.

Membahas bangsa tidak lepas dari keluarga. Keluarga merupakan cikal bakal bangsa. Bermula dari keluarga muncul tunas-tunas bangsa yang sehingga diharapkan mampu memunculkan dan menyiapkan generasi terbaik bangsa. Keluarga sebagai agen sosialisasi yang primer diharapkan mampu memerankan fungsinya dengan baik. Peran keluarga terdiri dari peran sosialisasi, edukasi, proteksi, afeksi, dan ekonomi. Menanamkan dan membelajarkan nilai dan norma sedini mungkin. Melindungi keluarga dari hal yang membahayakan. Pemenuhan kebutuhan fisik dan psikis sesuai kemampuan yang dimiliki dan sebaik mungkin.

Berbicara keluarga mengarah pada orang-orang yang ada dalam keluarga, baik keluarga batih (keluarga inti) maupun keluarga luas (extented family). Pemegang kendalinya adalah kepala keluarga (suami) dengan patner (pasangan/istri), akan dibawa kemana keluarga tersebut. Kemanakah bahtera keluarga akan dilabuhkan. Keduanya memiliki peranan penting mewujudkan keluarga yang mampu menjalankan roda peran keluarga dengan baik. Kerja sama menuju tujuan (goal) yang diharapkan.

Terciptanya sebuah keluarga diawali dengan pertemuan dua insan yang memiliki latar belakang keluarga yang berbeda. Life style (gaya hidup) keluarga dan kepribadian dua insan (suami istri) yang disatukan dalam sebuah bahtera yang bernama keluarga. Perbedaan-perbedaan yang dimiliki oleh manusia dipertemukan oleh Alloh dalam satu tempat dan waktu. Dalam jangka waktu tertentu, pasangan insan melakukan reproduksi dengan hadirnya buah cinta mereka ke bumi, keturunan, beranak pinak. Buah hati terlahir memiliki karakter yang berbeda; adakalanya wajah dominan ke ayahnya, kepribadian dominan ke ibunya, bahkan wajah dan kepribadiannya dominan pada salah satu diantara ayah dan ibunya. Alloh pendesainnya, subhanaalloh.

Sosok orang tua (keluarga inti/batih) akan banyak memahami karakter putra putrinya, secara otomatis pula mereka harus memberikan perlakuan tidak sama kepada buah hatinya. Hal ini bukan berarti tebang pilih atau pilih kasih, bukan. Hal ini semata-mata ingin mengarahkan buah hati dan menuntunnya dengan setulus hati agar tidak salah dalam melangkah. Memilihkan mereka langkah yang baik, menjauh dari yang kurang baik. Mengajak buah hati berjalan ke jalan yang terbaik diantara yang baik. Misalnya, mendidik dan memperlakukan anak perempuan jelas berbeda dengan mendidik anak laki-laki. Bakat si sulung dan si ragil dapat berkemungkinan berbeda sehingga jika si sulung memiliki kegemaran melukis dan si ragil gemar membaca, jelas si sulung difasilitasi alat melukis dan si ragil dibelikan buku bacaan.

Perjalanan bahtera keluarga juga dapat memiliki ciri khas tertentu dan berlangsung lama. Berkemungkinan, ada tipe suami penyabar dan istri berwatak keras serta ada yang bertipe suami berkarakter keras dan istri sangat penyabar. Perbedaan yang ada dapat membawa keduanya pada kehidupan berkeluarga dengan usia pernikahan puluhan tahun; pernikahan emas (50 tahun) dan pernikahan perak (25 tahun).  Kedua insan dapat mewujudkan keluarga yang harmonis di bawah perbedaan demi perbedaan. Saling menghargai dan menghormati menjadi bumbu yang menggurihkan asam, asin, manis, dan pahit kehidupan.

Strategi orang tua menanamkan keberagaman kepada buah hati agar mereka merasa nyaman dengan saudara juga membutuhkan strategi tertentu bagi orang tua. Misalnya kakak dan adik yang berebut mainan, biasanya kalau umur adik masih batita atau balita, kakak dialihkan ke mainan lain (mengalah). Usia berikutnya, keduanya beranjak remaja setidaknya kalau ada konflik dapat diajak bicara bersama sedangkan orang tua baik ayah maupun ibu dapat menjadi mediator dalam konflik buah hatinya. Kebijakan-kebijakan dapat diambil oleh orang tua dalam menyikapi peristiwa di dalam lingkungan keluarga. Pola sosialisasi orang tua dalam mengasuh buah hati dapat memilih kolaborasi represif (otonom orang tua) dan partisipatif (otonom orang tua). Kebijakan pola sosialisasi represif ketika sikap anak condong pada penyimpangan dan pola partisipatif dalam diambil ketika anak sudah memilih jalan yang baik sehingga perlu terus didorong dan didukung.

Ketika konflik terjadi di dalam keluarga yang sudah pada tahap dewasa (generalized other) membutuhkan strategi tertentu pula dan lebih hati-hati. Pada tahap sosialisasi, tahap ini merupakan tahapan tertinggi setelah preparatory stage, play stage, dan game stage. Tahap dewasa merupakan tahapan manusia yang mampu membawa diri dengan baik berdasarkan latar belakang pendidikan, sosial, politik, dan budaya yang dialami. Sikap bijaksana sangat diperlukan menghadapi perbedaan. Selama perbedaan tidak mengarah pada sesuatu yang bersifat prinsip, perbedaan adalah sebuah keniscayaan. Bersikap bijaksana dan toleransi perlu dibudayakan agar kedamaian dan harmonisasi kehidupan selalu menghiasi seluruh aspek kehidupan. Konflik, pasti terjadi berkelindan, ada saatnya untuk berkesudahaan. Merasa benar bahkan benar sendiri bukan solusi terbaik, sebab KH. Mustofa Bisri (ulama’ dan budayawan) menyatakan kebenaran kita berkemungkinan salah. Kesalahan orang lain berkemungkinan benar, dan hanya Alloh yang benar-benar benar.

Keberagaman hidup dapat dipelajari dari makanan khas di sekitar kita, rujak petis. Bahan rujak terdiri dari petis, garam, gula, kacang tanah, kacang panjang, tauge, timun, tahu, tempe, dan lain-lain. Bahan rujak yang bermacam-macam memiliki falsafah hidup, yakni meskipun bahan sangat beragam, ketika kita nikmati, rasanya sangat enak, berselera menyantapnya.

           Keberagaman dapat dipelajari dari anggota tubuh kita. Hati sebagai komandan, anggota tubuh lain menjadi tentaranya. Titah komandan dilaksanakan oleh bawahannya. Seorang komandan dapat bekerja dengan baik tanpa patner yang menyertainya. Bangsa juga demikian, peran seseorang disesuaikan dengan statusnya sehingga semua elemen bangsa dapat bekerja dengan baik.

اِنَّمَاالْاُمَّةُ اْلوَحِيْدَةُ كَالْجِسْ *مِ وَاَفْرَادُهَا كَااْلاَعْضَاءِ
   كُلُّ عُضْوٍ لَهُ وَظِيْفَةُ صُنْعٍ  *  لاَتَرَى اْلجِسْمَ عَنْهُ فِي اسْتِغْنَاءٍ

“Suatu umat bagai satu jasad. Setiap individu ibarat anggota-anggota tubuhnya. Setiap anggota memiliki tugas dan peran. Jangan kau anggap tubuh tidak membutuhkannya”.

Leave a Reply

Your email address will not be published.