Shadow

BELAJAR MENCINTAI

wallpaperallah muhammad

Indonesia merupakan negara yang kaya akan tradisi dan budaya. Setiap daerah memiliki tradisi atau budaya masing-masing (local wisdom), dan sebab inilah negera Indonesia disebut Negara Multikultural. Dari sekian banyaknya tradisi,  ada tradisi-tradisi yang mendapatkan sentuhan nilai-nilai Islam. Karena para wali songo juga ikut berperan melestarikan tradisi dan budaya  masyarakat pada saat itu.

Menjelang akhir tahun 2021 ini, kita semua dihadapkan dengan datangnya Bulan Maulid, bulan yang menjadi momen istimewa bagi umat Islam sedunia termasuk Indonesia. Momen perayaan kelahiran Nabi Muhammad SAW yang sudah menjadi bagian tradisi umat dan berlangsung berabad-abad lamanya. Meski dapat dipastikan, perayaan kali ini tidaklah semeriah seperti sebelum adanya pandemi Covid-19.

Tradisi maulidan merupakan bagian dari pendidikan, khususnya umat Islam. Jika umat Nasrani merayakan kelahiran Isa al-Masih yang dikenal dengan Hari Raya Natal, maka umat Islampun juga punya tradisi perayaan kelahiran nabinya. Setiap umat punya kecintaan tersendiri bagi panutannya dengan cara yang berbeda, dan Nabi Muhammad adalah nabi sudah seharusnya diagungkan dan dirayakan hari kelahirannya.

Banyak pendidikan atau pelajaran yang dapat kita ambil dari pesta Maulid Nabi ini. Maulid menjadi ajang syukuran bagi seluruh umat Islam, bahwa kita semua dihadiahkan oleh Alloh SWT seorang panutan yang telah menciptakan peradaban dan tatanan kehidupan yang baik bagi umat manusia. Dengannya kita mengenal iman, Islam, akhlak, budaya, dan lain-lain.

Momen maulidan juga mengajarkan kita semua tentang cinta, khususnya bagi generasi muda. Cinta kepada Nabi Muhammad SAW sebagai utusan Alloh dan pembawa syariat yang hasilnya dapat dirasakan sekarang. Cinta ini harus diajarkan dan ditanamkan sedini mungkin agar umat manusia tahu betapa besar pengorbanan nabi di dalam menyampaikan dakwah Islam, sungguh besar jasa dan kecintaan beliau kepada umatnya. Nabi mengajarkan cinta kepada Alloh dan Rosulnya dengan pengorbanan jiwa, raga dan harta. Maka balasan yang pantas akan hal itu adalah hal yang sama yaitu cinta kepada Nabi.

“Tiga (perkara) yang apabila ada pada diri seseorang, ia akan mendapatkan manisnya iman: Alloh dan Rosulnya lebih dicintai dari selain keduanya. Dan siapa mencintai seseorang, dia tidak mencintai orang itu kecuali karena Alloh Azza Wajalla. Dan siapa benci kepada kekufuran setelah diselamatkan oleh Alloh sama bencinya seperti bila dilempar ke dalam neraka.” (HR. Bukhori)

Sehingga tidak heran, apabila terjadi pada sebagian masyarakat sampai rela berhutang demi merayakan maulid. Hal ini mereka lakukan sebagai interpretasi atas cintanya kepada Nabi. Wujud cinta seperti ini sulit rasanya untuk dibendung oleh siapun, meski dalam satu sisi seseorang tidak dibenarkan memaksakan diri di luar batas kemampuan.

Menyikapi hal ini, butuh pendekatan dari tokoh agama untuk memberikan pemahaman yang relevan bagi masyarkat yang tengah mengalami dilema tersebut. Satu sisi, masyarakat sudah terlanjur cinta maulid dan sisi yang lain konsidi ekonomi sedang menjerit. Mungkin solusi terbaik adalah perayaan maulid dilakukan secara kolektif (secara kelompok) agar dua keinginan yang berlangsung bersamaan dapat diwujudkan. Toh, perayaan maulid tidak saja menyangkut perorangan namun bisa juga dilakukan secara kelompok.

Pelajaran selanjutnya adalah pengenalan kepada umat manusia, bahwa Islam cinta tradisi bahkan sangat menganjurkan untuk menciptakan tradisi-tradisi baru yang baik. Maulidan adalah tradisi nabi sendiri yang pada saat itu beliau rayakan dengan cara berpuasa setiap hari Seni (hari kelahiran Nabi). Dan sekarang tradisi itu dikonsep dengan acara Maulidan yang diisi dengan pembacaan sholawat, tausyiyah, hiburan Islami, drama Islami, makan bersama dan lain-lain. Konsepnya saja yang berbeda namun esensinya sama seperti yang nabi contohkan.  

Nabi diutus untuk membentuk umat tawassut (moderat), adakalanya inklusif dan adakalanya eksklusif. Selama budaya dan tradis itu seirama dengan ajaran Islam, maka Islam tidak menutup diri (inklusif), seperti halnya acara maulidan. Sebab, tanpa tradisi Islam akan terkesan kurang elok dan  tidak dapat menyebar luas hingga ke seluruh dunia.

Inilah beberapa pelajaran yang dapat diambil dari peryaan maulid Nabi SAW. Jangan hanya memandang sebagai ritual keagamaan, tapi banyak hikmah yang dapat mendorong kreasi untuk menciptakan tradisi dan budaya masyarakat.

Leave a Reply

Your email address will not be published.