Shadow

Langgar GIPO Bukti Sejarah Yang Terasingkan

Langgar Gipo
Langgar Gipo

Kota Surabaya atau yang berjuluk Kota Pahlawan memiliki beberapa bangunan tempo dulu yang bernilai sejarah. Diantaranya adalah Jembatan Merah, Museum Surabaya, Museum WR. Supratman dll. Namun, dari sekian tempat histori di Surabaya, ada satu tempat bersejarah namun terasa terasingkan dikarenakan tidak terawat sama sekali, yaitu Langgar Gipo.

                Maka dari itu, tim koresponden Majalah Assirojiyyah berkunjung ke kediaman Gus Ahmad Hifni (keturunan ke enam pendiri Langgar Gipo) untuk mendapatkan informasi yang real dari langgar tersebut.

Gus Ahmad Hifni menuturkan bahwa Langgar Gipo berdiri pada tahun 1800-an akhir. Terletak di Jl. Kalimas Udik, Kel. Nyamplungan, Gang. 1. Penetapan “Gipo” sebagai nama Langgar karena pendirinya yang bernama H. Abdul Latif Sagipoddin oleh masyarakat sering dipanggil Mbah Gipo. H. Abdul Latif Sagipoddin sendiri adalah gabungan dari dua nama, Abd. Latif nama setelah ibadah haji, Sagipoddin nama kelahiran. Oleh sebab itu, keluarga menetapkan “Gipo” sebagai nama resmi langgar.

Menurut Gus Ahmad Hifni, ada dua versi mengenai nama pendiri langgar Gipo. Ada yang menyebut Tsaqifuddin dengan huruf Qof, ada yang menyebut Sagipoddin dengan huruf G. Akan tetapi, Gus Hifni mengklaim bahwa ikatan keluarga Sagipoddin yang merupakan etnis Jawa menyebutkan dengan huruf G, Sagipoddin.

Baca Juga:

https://assirojiyyah.online/?utm_source=superpwa&utm_medium=superpwa&utm_campaign=superpwa%2F

Kronologis berdirinya Langgar Gipo bermula dari inisiatif Mbah Gipo yang menginginkan agar di wilayah tempat tinggalnya didirikan langgar. Mengingat jarang sekali ditemukan langgar di Surabaya.

Menurut cerita yang berkembang, keluarga besar Gipo pada eranya berprofesi sebagai guru ngaji dan pedagang. Sehingga tak heran, jika keluarga Gipo merupakan keluarga yang terpandang baik dari sisi keilmuwan maupun ekonomi.

Maka, selain berfungsi sebagai tempat ibadah, langgar tersebut juga menjadi sentra kegiatan keluarga besarnya, seperti menjadi pusat perkumpulan famili secara rutin baik itu halal bihalal setiap Idul Fitri / Idul Adha, dijadikan tempat rapat internal keluarga, menjamu para ulama, saudagar, maupun tokoh-tokoh yang berziarah ke makam Sunan Ampel. Sehingga Langgar Gipo pada masanya menjadi sangat tersohor. Jadi ketika masih aktifnya langgar tersebut tercatat ada 4 kegiatan. Pada tahun 60-an, langgar itu pernah menjadi transit jamaah haji sebelum berangkat ke kapal. Jadi istilahnya dulu disebut dengan PHI (Penginapan Haji Indonesia).

Kegiatan keakhiratan di langgar adalah pendidikan ala pondok pesantren. Dengan sistem mengaji pulang dan pergi atau disebut dengan istilah “Nyolok”. Hal ini disebabkan kondisi orang Surabaya yang berprofesi, sehingga tipikal Kiai Surabaya dikenal tidak memiliki santri yang mondok.

Dari segi konstruksi, bangunan langgar Gipo mencerminkan bangunan masa kolonial Belanda dengan luas 12 kali 14 meter persegi. Memiliki 2 lantai, lantai dasar beralaskan tehel sebagai tempat ibadah dan lain-lain, lantai dua beralaskan papan kayu jati yang berfungsi sebagai kantor keluarga. Pembangunan dan perawatannya murni bersumber dari biaya pribadi.

Seiring berjalannya waktu, akhirnya langgar tersebut harus sepi dari segala kegiatan. Itu terjadi semenjak KH. Hasan Gipo fokus di dalam mengurus NU pada tahun 1926 M. Ditambah lagi keluarga keturunan Gipo yang semakin banyak, sehingga tidak lagi menjadi pusat untuk menampung seluruh keturunan Gipo. Sehingga sering menyewa gedung di luar untuk kumpul keluarga. Dan sekitar tahun 1980-an, langgar tersebut sudah tidak aktif dikarenakan tidak ada satupun keluarga Gipo yang berdiam di sekitar langgar tuk merawat dan lebih memilih pindah.

Peninggalan sejarah dari keluarga Sagipoddin kini diantaranya :

•  Langgar Gipo

• Dua kuburan di pemakaman Ampel dan di pemakaman Kenceran

Tercatat ada beberapa keturunan Gipo yang masuk dalam keorganisasian Islam terbesar di Indonesia diantaranya :

•  KH. Hasan Gipo (cucu dari Mbah Gipo) sebagai Ketua Tanfidziyah pertama NU yang dulu bernama HBNU singkatan dari Hope Bestur Nahdhotul Ulama’.

• KH. Fatah Yasin menjabat menjadi salah satu anggota Kabinet Juanda dalam tiga Priode di masa Presiden Soekarno, yakni menjadi menteri Penghubung Ulama dalam tiga kali kabinet.

• KH. Mas Manshur menjabat sebagai anggota Muhammadiyah karena diajak oleh KH. M. Dahlan.

Selain itu, langgar tersebut juga pernah menjadi tempat rapat Komite Hijaz para kiai NU. Hal itu terlaksana di saat Negara Arab Saudi mengalami peralihan kepemimpinan raja dari Syarif Husain beralih ke Ibnu Su’ud dengan memberangkatkan kontingen yaitu KH. Wahab Hasbulloh untuk menghadap Raja Su’ud.

Oleh : Fauzan Adhim/FA

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *