Shadow

YAYASAN MAKARIMUL AKHLAQ ASET MASYARAKAT PANYERAGAN

Yayasan Makarimul akhlaq
Yayasan Makarimul akhlaq

Masyarakat Madura dikenal masih kental dengan nilai-nilai religinya. Hal ini bisa dilihat dari beberapa ikon keagamaan seperti madrasah yang menjadi wadah masyarakat untuk belajar dan mendalami ilmu agama dan keislman. Salah satu madrasah yang menjadi aset dan kebanggaan bagi Masyarakat Panyerangan, Torjun, Sampang adalah Madrasah Diniyyah Makarimul Akhlaq.

                Secara historis, berdirinya MD. Makarimul Akhlaq dipelopori oleh H. Hasan Ays’ari, salah seorang tokoh di Dsn. Ghubbu, Ds. Panyerangan. Pada saat itu, beliau menyadari bahwa di desanya belum ada lembaga agama yang bisa dijadikan media belajar agama oleh warga sekitar, khususnya bagi anak-anak di lingkungannya.

                Dengan alasan ini, lalu beliau mendirikan surau kecil atau yang dikenal dengan istilah Langger sebagai tempat belajar ngaji. Tujuannya agar masyarakat bisa baca al-Quran dan tidak buta dengan masalah agama. Di langger itu, beliau konsisten mengajar para santri setiap ba’da maghrib hingga akhir hayatnya. Selepas beliau wafat, kemudian digantikan oleh putranya, KH. Ahmad Zaini, salah satu alumni PP Assirojiyyah Kajuk, Sampang.

Sebagai generasi, KH. Zaini sangat menyadari bahwa pendidikan agama yang ada masih  sangat sederhana. Sehingga berbekal tekad dan dukungan masyarakat, beliau mendirikan madrasah pada tahun 1985 M yang diberi nama Makarimul Akhlaq. Penamaan ini, konon memang pemberian dari Hadrotus Syekh al-Muallim selaku guru beliau.

Di awal berdirinya, MD. Makarimul Akhlaq masih berupa bangunan yang terbuat dari anyaman bambu dan diskat menjadi beberapa ruang kelas. Kemudian berkat usaha keras beliau, bangunan ini berkembang menjadi bangunan gedung seperti yang ada sekarang.

Di tengah perkembangannya, pada tahun 2010 M sang pendiri harus kembali ke hadirat ilahi. Kepemimpinan berikutnya dilanjutkan oleh Ustad Qoidul Khoir, putra tertua dari KH. Ahmad Zaini. Beliau melanjutkan perjuangan sang ayah dalam mengemban amanat hingga sekarang.  

https://assirojiyyah.online/langgar-gipo-bukti-sejarah-yang-terasingkan/

Jenjang Pendidikan dan Kurikulum

                Pada masa kepemimpinan KH. Zaini, lembaga yang semula hanya berupa madrasah telah berkembang menjadi Yayasan Pendidikan dan Sosial. Yang di dalamnya terdiri dari pendidikan formal seperti PAUD, TK dan SMP dan pendidikan non formal yaitu madrasah itu sendiri. Kegiatan belajar menagajar di yayasan tersebut berjalan sesuai jadwal yang telah ditentukan: PAUD dan TK beroperasi mulai jam 07.30 s/d 10.30 WIB, SMP pada jam 07.00 s/d 12.00 Dzuhur, TPQ pada jam 01.00 s/d 01.45 Istiwa’, dan Madrasah (MD) pada jam 02.00 s/d 03.30 Ashar (Kelas 1-3), 02.00 s/d 04.30 (Kelas 4-6).

                Uniknya, setelah kegiatan belajar selesai, para santri diwajibkan untuk ziarah ke makam yang ada di belakang masjid. Selain itu, para santri diwajibkan sholat berjemaah dan menjaga kebersihan kelas dan lingkungan lembaga.

Untuk pendidikan non formal, kurikulum yang diterapkan adalah perpaduan antara kurikulum pesantren dan kurikulum buatan sendiri. Sedangkan untuk yang formal memakai kurikulum nasional. Namun yang menjadi pembeda dengan lembaga lainnya, pada lembaga ini menambahkan muatan kurikulum pendidikan ASWAJA ala Nahdlatul Ulama pada semua jenjang pendidikannya.

Sarana dan Finansial

                MD. Makarimul Akhlaq mempunyai 11 ruang kelas untuk menampung 150 santri yang ada. Ruangan tersebut berdiri di atas tanah waqof seluas 300 m2. Selain ruangan, juga berdiri masjid sebagai sarana ibadah santri dan masyarakat yang terletak di samping madrasah. Sehingga sangat mendukung kegiatan praktek ubudiyyah bagai para santri.

                Kemudian dalam hal mengajar, Ra Qoed, sapaan akrab pimpinan madrasah dibantu oleh 4 ustadz, (2 diantaranya adalah Guru Tugas PP Assirojiyyah) dan 3 ustadzah.

Adapun biaya operasional dan pembagungan sarana pendidikan di Makarimul Akhlaq bersumber dari uang bulanan santri sebesar Rp. 5.000 perbulan dan dibantu oleh para alumni, swadaya masyarakat dan donator lainnya. Termasuk juga bisyaroh para guru, dialokasikan dari sumber finansial tersebut.

Oleh: Fauzi Ali

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *