Shadow

Nostalgia 30 Menit

Nostalgia
Nostalgia

Titipan Rosululloh mulai tampak sedikit demi sedikit. Yaitu perhiasan dunia dan kecantikannya. 1441 tahun lalu lamanya, bagaikan tabir yang terbuka. Kita tidak tahu apakah sudah terbuka dengan sempurna atau masih seperempat dan tebakan itu hanya sebuah hipotesa. Yang pasti kita ada dalam lingkaran kewajiban, kebutuhan dan keinginan. Contohnya wajib menggunakan mesin, membutuhkan mesin dan ingin menggunakan mesin. Kalau masuk dalam kategori wajib berarti mengusahakan dengan sekuat tenaga, baik kredit ataupun sewa. Kalau hanya butuh berarti ingin mendapatkan tetapi menunggu kelebihan sisa belanja. Sedangkan keinginan lebih sederhana pengharapannya. Hanya sebatas angan-angan. Tetapi kalau melihat survey pengguna gadget menunjukkan angka fantastis. Aneh tapi nyata jumlah penduduk Indonesia 268,2 juta jiwa sedangkan pengguna gadget 355,5 juta unit, artinya penduduk Indonesia memiliki 2-3 gadget. (websindo : Indonesia Digital 2019 : Tinjauan Umum).

                Akibatnya banyak diantara masyarakat dewasa ini terasa dekat tapi jauh. Duduk bersebelahan di ruang tunggu asik sambil senyum, sambil tertawa bahkan ada yang mengerutkan kening tanda serius. Ada yang paling miris 20 tahun tidak bertemu biasanya ngobrol berjam-jam asik bernostalgia tapi sekarang cukup nostalgia 30 menit sisanya saling tukar nomer hp, nostalgia selesai.

Baca Juga: https://assirojiyyah.online/santri-harus-dengan-perkembangan-zaman-santri/

                Kita tidak bisa menolak perubahan perilaku masyarakat dengan memiliki gadget entah atas nama kewajiban, kebutuhan atau keinginan tetapi yang pasti kebiasan datang ke perpustakaan umum berkurang, hadir pengajian menurun, kumpul sambil melirik hp menjamur, belanja online full. Cukup duduk di teras rumah datang sepeda motor membawa pesanan seporsi ayam bakar. Di tengah situasi seperti ini santri dituntut untuk menjadi penyejuk jiwa yang rapuh, pemersatu bangsa bukan memperuncing hubungan umat. Santri harus tampil sebagai media pilihan terbaik di tengah masyarakat. Baik berupa tulisan maupun video, sebab masyarakat lebih senang dengan gadget. Berjam-jam memandang gadget begitu santai sedangkan membaca al-Qur’an satu juz di aplikasi hp-nya hanya mampu 30 menit sambil ngantuk.

                Persiapkan materi dengan matang untuk menulis atau membuat visual untuk mempraktikkan ilmu yang telah dipelajari di pesantren untuk berbagi dengan saudara kita di dunia antah-berantah ini. Tidak perlu menyampaikan materi yang masih buram agar tidak menimbulkan polemik dan perpecahan. Tahan amarah dan emosi sebab lidah dan jari sama status hukumnya. Kalau lisan bisa menghina dengan suara, begitu juga tangan akan menulis dengan cacian. Di zaman para imam mujtahidun polemik tulisan sudah terjadi. Jadi kejadian nyinyir bukan barang baru tetapi yang harus kita jaga saat ini adalah jadilah manusia yang bijaksana. Ada keluarga kita, saudara kita, tetangga kita yang butuh pendidikan berkarakter. Rangkul mereka untuk menjadi orang yang bijaksana. Bijak dalam bersikap dan bijak dalam mengambil keputusan. Kalau kita memakai teori kepatutan setiap apa yang kita baca, pantas atau tidak untuk disebarkan, begitu juga hak jawab. Karena seringkali terjadi perpecahan antar sahabat, antartetangga dan antaranak bangsa.

                Jadikanlah dakwah dengan media hp melahirkan aroma kesejukan dari seorang santri. Sampaikanlah walaupun satu ayat. Pesan moral yang menyejukkan menjadi jalan yang terang dalam kehidupan manusia menghadap Dzat yang Maha Mulia lagi Maha Perkasa.  Jangan puas dengan kebaikan yang berulang-ulang sebab keikhlasan itu sangat kecil. Sekarang saatnya singsingkan lengan baju untuk mengukir kebaikan. Wallohu a’lam.

Leave a Reply

Your email address will not be published.