Shadow

TANG SANTREH SEEKOCAK BERHASIL MON ANDHIK AKHLAK BEN ROK-MOROK

“TANG SANTREH SEEKOCA’ BERHASIL MON ANDHIK AKHLAK BEN ROK-MOROK” ( SANTRI SAYA DIKATAKAN BERHASIL APABILA MEMILIKI AKHLAK DAN MENGAJAR )

Judul di atas merupakan dawuh dari Al-Muallim yang di sampaikan oleh ketua umum dalam rapat pengurus setiap jum’at pertama yang bertempat di darul munadhoroh.Memang Al-Muallim sangat memperhatikan akhlak santrinya.Karena bagi masyarakat akhlak merupakan ukuran seseorang ,dia mengerti atau tidak.Seseorang yang mengerti tapi akhlaknya tidak baik maka dia akan dinilai sebagai orang yang bodoh ,sebaliknya seseorang yang biasa-biasa saja tapi akhlaknya baik maka dia di mata masyarakat di nilai sebagai orang yang alim (mengerti).

Masalah akhlak ini sering disampaikan oleh Al-Muallim disetiap kesempatan,bahkan saat santri hendak sungkem ke beliau Al-Muallim masih sempat mengingatkan santrinya untuk senantiasa menjaga akhlak saat liburan. “Muallim neser dhe’ sampeyan kabbi,sampeyan bhe’neserrah dhe’ Muallim…?”Spontan santri ketika itu menjawab “Enggi abdhinah neser dhe’ ajunan”.Muallim berkata lagi “Mon sampeyan kabbi neser dhe’ Muallim neng romanah jegheh tengka lakonah jhe’ en-maenan reng bine’ “

Dalam pesan Muallim itu kita bisa menangkap makna emplisit didalamnya betapa beliau sangat menginginkan santri-santrinya mempunyai akhlak yang baik.Meski santri di pondok digembleng dan ditata dengan ilmu agama dan akhlak yang baik,namun bukan berarti bisa menerapkan diluar pesantren terutama saat liburan .Maka oleh karena itulah beliau sering memberikan nasehat seputar akhlak ketika hendak pulang dari pesantren saat liburan tiba.Ketika liburan santri dituntut untuk berhubungan dengan orang lain,dalam kondisi seperti itu terkadang santri akan menyaksikan langsung perbuatan yang sangat bertolak belakang dari apa yang dia ajari di pesantren.Seperti pergaulan bebas ,minum-minuman ,tawuran,dan lain sebagainya.

Fenomena semacam ini yang terkadang membuat santri dalam dilema.Di satu sisi dia harus berpegang teguh pada tingkah laku yang sudah dia dapatkan di pesantren.disatu sisi lain dia dituntut untuk tampil seperti mereka.Ketika dalam kondisi yang seperti ini santri terkadang lupa dan lebih memilih untuk beradaptasi karena takut dikatakan primitif,atau ketinggalan dan segala macam istilah yang ada pada saat ini.Melihat kondisi anak muda sekarang memang sangat memperihatinkan,seabrek kenakalan remaja sering menghiasi media sekarang ini.Pengaruh tranfer budaya barat lewat media televisi dan lainnya sangat mempengaruhi remaja sekarang,bahkan hal itu menjadi kebanggaan mereka.Kalau kita sebagai santri larut dalam permainan mereka, lantas siapa yang akan memegang estafet untuk melanjutkan misi ulama’ dalam membangun masyarakat yang berakhlakul karimah.?

Santri dikenal sebagai manusia yang identik dengan ilmu agama,juga dikenal dengan kesopanan dan tutur bahasa yang baik.Itu karena santri dalam sehari-hari memang di ajak untuk selalu tawaddhu’ terutama terhadap gurunya.Hal itu di harapkan tetap terjaga dan dipraktekkan diluar pesantren saat liburan,meski tidak mampu untuk menarik orang lain paling tidak masih ada nuansa kesopanan dalam kehidupan ini.Semoga dihari libur ini kita sebagai santri tetap bisa berpegang pada ajaran agama,sehingga dengan begitu akan tercipta kehidupan yang berakhlakul karimah.Amin……

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

chat sekarang