Notice: Undefined variable: encoded_url in /home/u347206317/domains/assirojiyyah.online/public_html/wp-content/plugins/fusion-optimizer-pro/fusion-optimizer-pro.php on line 54
Penakluk Hujan Yang Berujung Aneh - PONDOK PESANTREN ASSIROJIYYAH
Wednesday, June 19pondok pesantren assirojiyyah
Shadow

Penakluk Hujan yang Berujung Aneh

Spread the love
Hujan
Foto: Pinterest

Oleh: Abd. Rohman

Dari sekian banyak sahabat, ada seorang sahabat yang mendapatkan kepercayaan nabi. Dia adalah al-Ala’ bin al-Hadrami. Kata al-Hadrami adalah nama yang dinisbatkan dengan nama kota Hadramaut, Yaman, tempat ayahnya berasal. Keluarganya berasal dari Bani Khazraj dan bersekutu dengan Bani Umayyah. Al-Ala’ bin al-Hadrami memiliki sebelas saudara. Dia merupakan anak pertama dari tiga bersaudara yang laki-laki. Amir bin al-Hadrami dan Amru bin al-Hadrami merupakan nama kedua saudaranya. Dan sembilan lainnya adalah perempuan.

Nama lengkapnya adalah al-Ala’  bin Abdullah bin Umar al-Hadrami. Beliau lahir di Mekkah. Nama ayahnya adalah Abdullah bin Imad al-Hadrami. Menurut riwayat menyatakan bahwa nama al-Hadrami memiliki beberapa versi ialah, Abdullah bin Abbad, Ibnu Dhimar, Ibnu Dhimad bin Salma, Ibnu Ubaidah bin Dhamar, Ibnu Imad bin Malik, Ibnu Ammar bin Akbar, dan disebut Ibnu Ammar bin Sulaiman. Berasal dari Bani Iyad bin as-Shadaf, dari Hadramaut, Yaman.

Masa Kenabian

Setelah Nabi Muhammad diutus, al-Ala’ bin al-Hadrami merupakan salah satu penduduk Mekkah yang paling awal menjadi muslim. Karena itu, ia memperoleh beberapa tugas penting oleh Nabi Muhammad. Di antaranya sebagai pencatat wahyu, pengirim surat, utusan, panglima perang, Gubernur Bahrain dan petugas pengumpul zakat dan jizyah. Hingga pada masa Kekhalifahan Rasyidin, al-Ala’ bin al-Hadrami tetap menjadi pemimpin pasukan perang sekaligus Gubernur Bahrain pada masa Khalifah Abu Bakar ash-Shiddiq dan Umar bin Khattab.

Pada akhir tahun 6 H, sebelum kepulangan Nabi Muhammad dari Ji’ranah, al-Ala’ diutus untuk mengantarkan sepucuk surat dakwah kepada al-Mundzir bin Sawa, sang penguasa di Bahrain. Bahrain merupakan salah satu negeri besar di Jazirah Arab. Menurut riwayat lain, peristiwa ini terjadinya sebelum pembebasan Mekkah.

Karamah

Menurut Sahm bin Munjab, karamah al-Ala’ bin al-Hadrami adalah terkabulnya doa-doa beliau oleh Allah SWT setiap kali meminta hujan. Suatu Ketika, di tengah perjalanan di mana musuh telah jauh di depan, pasukan yang dipimpin al-Ala’ kehausan dan nyaris kehabisan persediaan air. Tak lama setelahnya, matahari mulai condong ke arah barat, tanda waktu salat sudah masuk. Al-Ala’ pun mengimami pasukannya melakukan salat Jumat. Selesai salat, ia mengangkat tangannya dan berdoa.

BACA JUGA:

Diskriminasi dan hakikat kemuliaan

                “Wahai Tuhan yang Maha Mengetahui, wahai yang Maha Penyantun, wahai yang Maha Tinggi, wahai yang Maha Besar. Sungguh kami adalah hamba-hamba-Mu yang sedang berperang di jalan-Mu. Siramilah kami, agar bisa minum dan wudu.”

“Waktu itu kami tak melihat apapun di langit. Tapi, demi Alloh, al-Ala’ belum lagi menurunkan tangannya hingga Alloh SWT mengirimkan angin dan memunculkan awan yang menurunkan hujan lebat sampai lorong-lorong kecil dan cekungan-cekungan tanah bekas sungai yang kering menjadi penuh dengan air.” Tutur sahabat Anas.

Akhir Hayat

Al-Ala’ bin al-Hadrami wafat pada tahun 11 H pada masa Khalifah Umar bin Khattab. Namun ada pula yang menyatakan pada tahun 14 H. Karena menderita sakit perut, setelah mengalahkan musuh di wilayah perairan untuk menuju ke Darain. Jenazah al-Ala’ tidak dimandikan karena tidak ditemukan air di sekitar wilayah tersebut. Jenazahnya kemudian langsung dibungkus dengan kafan dan dikuburkan. Namun usai pemakaman, tiba-tiba seorang laki-laki mengabarkan kalau tanah yang mereka pijak tak pernah menerima bangkai manusia. “Pindahkanlah dia satu-dua mil dari sini!,” kata laki-laki tersebut. “Kami berpikir, membiarkannya dimakan hewan buas bukanlah balasan yang baik untuk al-Ala’,” kata Anas.

Akhirnya mereka menggali lagi makam al-Aladan bermaksud untuk memindahkannya. Anehnya, sesampainya di dasar liang kubur, jasad al-Ala’ tidak ditemukan. Yang ada hanya cahaya terang yang menyilaukan mata. Para pasukan pun mengembalikan kuburan itu seperti sebelumnya. Kemudian mereka melanjutkan perjalanan seraya bergumam, Alloh SWT telah mengambil dan melindungi jasad al-Ala’.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *