Notice: Undefined variable: encoded_url in /home/u347206317/domains/assirojiyyah.online/public_html/wp-content/plugins/fusion-optimizer-pro/fusion-optimizer-pro.php on line 54
Wewangian Simbol Pertemanan - PONDOK PESANTREN ASSIROJIYYAH
Wednesday, June 19pondok pesantren assirojiyyah
Shadow

Wewangian Simbol Pertemanan

Spread the love
Simbol
Sumber Foto: Pinterest

Oleh: Abd. Latif

Bagi kebanyakan orang, masa remaja adalah masa yang terbilang indah dan sulit untuk dilupakan. Karena pada masa itu, para remaja merasa dirinya sudah mulai melangkah menuju usia dewasa dan memiliki keleluasaan berpikir dan bertindak. Hal ini mengakibatkan mereka bertindak semena-mena, maka tak jarang kita temukan tawuran di tengah jalan, konsumsi narkoba dan minuman haram,  pelecehan terhadap wanita, perampokan bahkan berujung pembunuhan. Semua ini mengacu pada satu titik yaitu bebasnya berpikir dan bertindak sehingga timbul di antara mereka suatu pergaulan yang tiada batas. Pergaulan ini kerap kali orang menyebutnya dengan pergaulan bebas.

Penting bagi para remaja untuk mengetahui aturan serta cara yang baik dalam bergaul. Mengingat pada masa itu emosi serta cara berpikirnya masih terbilang labil, sehingga hal ini sangat berdampak  dalam membuat suatu keputusan. Dan pada akhirnya salah dalam mengambil keputusan yang mengakibatkan dirinya celaka. Lantas bagaimana solusi dalam menghadapi persoalan ini?.

Dalam Islam diajarkan bahwa pergaulan yang baik ialah melaksanakan pergaulan menurut norma-norma kemasyarakatan yang tidak bertentangan dengan hukum syara’, serta memenuhi segala hak yang berhak mendapatkannya masing-masing menurut kadarnya. Agama Islam menyeru dan mengajak kaum Muslimin melakukan pergaulan di antara kaum Muslimin. Karena dengan pergaulan, kita saling berhubungan mengadakan pendekatan satu sama lain. Kita bisa saling mengisi dalam kebutuhan serta dapat mencapai sesuatu yang berguna untuk kemaslahatan masyarakat yang adil dan makmur serta berakhlakul karimah.

Kemaslahatan masyarakat yang dilandasi dengan akhlakul karimah tidak akan terwujud, kecuali dengan membangun pergaulan yang bagus dan sehat. Islam adalah agama yang dilandasi persatuan dan kasih sayang. Kecenderungan untuk saling mengenal di antara sesama manusia dalam hidup dan kehidupannya, merupakan ajaran Islam yang sangat ditekankan. Islam bukan agama yang didasarkan pada hubungan liar yang tidak mengenal batas, tetapi Islam mempunyai garis hidup yang konkret dalam batasan-batasan hidup bermasyarakat.

Secara garis besar pergaulan itu dapat dilihat dari beberapa lapisan, antara lain:

Lapisan pertama, mereka yang umurnya lebih tua daripada kita, atau yang lebih banyak ilmudan ibadahnya. Maka hendaknya dalam memandang mereka, kita berperasaan bahwa mereka mempunyai keutamaan, dan kepada merekalah kita memberikan penghormatan yang semestinya.

Lapisan kedua, ialah mereka yang umurnya setaraf dengan kita. Mereka harus kita hormati, karena mungkin mereka lebih tinggi akhalknya, lebih banyak amalnya dan lebih sedikit dosanya daripada kita.

Lapisan ketiga, mereka yang lebih muda umurnya daripada kita. Golongan ini pun harus kita hormati secara wajar, karena mereka lebih muda dan lebih sedikit keburukannya dari dibandingkan dengan kita yang sudah lanjut usia.

Ada beberapa adab pergaulan dalam Islam, antara lain adalah sikap mencintai. Rasulullah SAW bersabda “Tidak beriman seseorang di antara kalian sehingga ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.” (HR. Bukhari dan Muslim) Jika para remaja bisa mencintai saudaranya seperti halnya ia mencintai dirinya sendiri, maka rasa saling mempercayai dan saling menjaga akan terjalin dan satu sama lain.

Tidak saling menyakiti, baik dengan perbuatan maupun dengan perkataan. Sebagaimana Rasulullah SAW bersabda “Seorang Muslim ialah yang mendapat selamat sekalian Muslim dari gangguan lidah dan tangannya. Dan seseorang muhajir ialah orang yang hijrah meninggalkan dari segala larangan Alloh.” (HR. Bukhari dan Muslim). Seandainya para remaja menjaga lisan dan tangannya dari melakukan kejahatan niscaya hidup akan lebih harmonis.

Berlaku tawadu (merendahkan diri) kepada sesama saudara, jangan sekali-kali menyombongkan diri terhadap orang-orang yang ada di sekitar. Rasulullah SAW pernah bersabda “Bahwasanya Alloh telah mewahyukan kepadaku bertawadu (merendahkan diri) hingga tidak ada seorangpun yang menganiaya terhadap lainnya, dan tidak seorang yang menyombongkan dirinya terhadap yang lainnya.” (HR. Muslim)

Menghormati orang yang lebih tua dan mengasihani orang-orang yang lebih muda. Rasulullah SAW bersabda “Tidak termasuk golongan kami orang yang tidak menyayangi kepada orang yang lebih kecil (muda) dan tidak mengetahui kewajibannya terhadap orang yang lebih besar (tua). Bukanlah termasuk golongan kami orang yang menipu kami. Seorang mukmin belum dikatakan beriman sehingga ia mencintai orang mukmin yang lain, seperti mencintai terhadap diri sendiri.” (HR Thabrani dan Dhamrah)

Harmonis kepada orang lain, sebagaimana Rasulullah SAW bersabda “senyumanmu (bermuka manis) untuk saudaramu adalah sedekah, dan amar makrufmu serta nahi mungkarmu juga sedekah, dan memberikan petunjuk kepada laki-laki (atau kepada siapa saja) yang ada di bumi yang sedang sesat, bagimu merupakan sedekah. Dan (apabila engkau suka) menyingkirkan batu atau duri atau tulang-tulang yang mengganggu jalan bagimu, merupakan sedekah.” (HR. Bukhari)

Tidak hanya itu, kita juga harus pandai dalam menyeleksi teman untuk bergaul, sebab teman memiliki pengaruh yang tinggi dalam membawa temannya ke jalan yang benar atau pun ke jalan yang salah. Maka tak heran Rasulullah mengumpamakan orang-orang yang bergaul dengan orang-orang yang salih lagi baik dan bergaul dengan orang-orang yang buruk lagi jahat, bagaikan seorang yang bergabung dengan saudagar parfum atau tukang las. Sebagaimana sabdanya “Perumpamaan seorang yang bergaul dengan orang salih, dan yang bergaul dengan orang jahat adalah seperti pedagang parfum dan tukang las. Maka pedagang parfum itu adakalanya ia menghadiahkannya padamu, atau kamu bisa membelinya, atau kamu paling tidak memperoleh bau yang harum dan semerbak. Sedangkan tukang las itu, bisa jadi akan membakar bajumu, atau paling tidak, kamu akan memperoleh bau akibat pengelasan yang busuk dan menyengat.” (HR Bukhari, No: 5534 dan Muslim, No: 2628)

Baca Juga

SENAM MASSAL, CARA ASSIROJIYYAH MENERAPKAN GAYA HIDUP SEHAT

Bila kita bergabung dengan pedagang parfum, maka akan memperoleh manfaat, misalnya bisa memiliki parfum itu, baik dengan jalan membeli atau mendapat hadiah sebagai promosi, atau paling tidak kita bisa menikmati baunya yang harum dan menyegarkan. Sebaliknya bila kita bergabung dengan tukang las, pada saat ia melakukan penggelasan, maka akan mendapat kerugian. Mungkin kita akan terkena percikan api, atau mata kita menjadi sakit karena sinar las yang sangat kuat, sedang tukang las itu sendiri menggunakan kacamata pelindung, atau paling tidak kita akan merasakan bau gas, karbit, dan bau zat kimiawi yang lain, yang merusak, akibat praktek pengelasan itu. Yang dimaksud bergaul dengan tukang las atau tukang parfum itu, sebenarnya hanya merupakan perumpamaan saja. Bukan berarti kita tidak boleh bergaul dengan tukang las dalam kehidupan sehari-hari. Apabila ia orang yang shalih, apakah ia tukang las, saudagar parfum, petani atau peternak, kita tetap baik bergaul dengan mereka. Karena sesungguhnya baik buruknya seorang ditentukan oleh ketakwaannya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *